<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Arulghost&#039;s Blog</title>
	<atom:link href="http://arulghost.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://arulghost.wordpress.com</link>
	<description>Just another WordPress.com weblog</description>
	<lastBuildDate>Tue, 13 Sep 2011 09:25:31 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='arulghost.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Arulghost&#039;s Blog</title>
		<link>http://arulghost.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://arulghost.wordpress.com/osd.xml" title="Arulghost&#039;s Blog" />
	<atom:link rel='hub' href='http://arulghost.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Tepi Trotoar Lampumerah</title>
		<link>http://arulghost.wordpress.com/2010/04/15/tepi-trotoar-lampumerah/</link>
		<comments>http://arulghost.wordpress.com/2010/04/15/tepi-trotoar-lampumerah/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 15 Apr 2010 10:12:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>arulbugines</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[anak jalanan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://arulghost.wordpress.com/?p=185</guid>
		<description><![CDATA[Tepi Trotoar Lampumerah By. Arul Ghost Kuraih lembaran kertas yang berserakan di meja kerjaku dan kuatur hingga rapi, saat itu jam yang melingkar di tanganku menunjukkan pukul 21:43 Wita, aduhh cuapek…, desahku…, setelah merapihkan semua berkas laporan di meja seraya bangkit dari duduk, kuraih jaket lusuh yang tergantung di sandaran kursi, kuayunkan langkah ke garasi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=arulghost.wordpress.com&amp;blog=8471244&amp;post=185&amp;subd=arulghost&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Tepi Trotoar Lampumerah</strong><br />
<strong>By. Arul Ghost</strong></p>
<p><strong></strong><a href="http://arulghost.files.wordpress.com/2010/04/anak_koran.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-186" title="Anak_koran" src="http://arulghost.files.wordpress.com/2010/04/anak_koran.jpg?w=252&#038;h=195" alt="" width="252" height="195" /></a><br />
<strong>K</strong>uraih lembaran kertas yang berserakan di meja kerjaku dan kuatur hingga rapi, saat itu jam yang melingkar di tanganku menunjukkan pukul 21:43 Wita, aduhh cuapek…, desahku…, setelah merapihkan semua berkas laporan di meja seraya bangkit dari duduk, kuraih jaket lusuh yang tergantung di sandaran kursi, kuayunkan langkah ke garasi dan menyambar helem butut yang berlogo SNI, kemudian beranjak pergi meninggalkan asap tipis yang keluar dari kenalpot motor, Beberapa menit berlalu, hawa dingin mulai menusuk pori-pori, angin yang menerpa wajah terasa dingin…, tiba di sebuah lampu merah diatasnya terdapat flyoper yang megah yang samar terlihat oleh pantulan cahaya lampu dari atasnya dan terdengar suara lalulalang kendaraan yang melintas, ku injak pedal rem motor yang kukendarai dan berhenti di samping mobil besar yang memuat container, sambil menunggu lampu hijau, kucoba untuk menerawang sekeliling dan tiba tiba serasa aliran darahku terhenti dadaku sesak.., bak puluhan kilo beban yang meng hantam saat mataku terbentur pada satu titik dimana sesosok anak kecil dengan telanjang dada, telanjang kaki sedang asik berbaring di tepi trotoar pinggiran jalan dan menanggapi cuek debu yang bercampur asap, serta bisingnya suara kendaraan tak dihiraukannya bagaikan berbaring diatas kasur busa yang empuk, kemudian dia bangun berjalan tertatih menghampiri pengendara yang sedang berhenti sambil menggenggam Koran yang sudah mulai usang oleh keringat yang bercampur debu…,ditawarkannya koran kepada setiap pengendara yang dilalui…tapi kadang hanya mendapat gelengan kepala,atau sekedar senyum getir,…huupppzz.. sunggu berat tanggungan hudupmu nak…!!!, lamunanku menerawang kembali ke masa lalu,disaat masih duduk di bangku sekolah dasar, saat membacakan teks undang-undang Dasar 1945 serta teks pancasila waktu upacara bendera, terbayang alinea terakhir UUD 1945 yang berbunyi “ serta dengan mewujudkan suatu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia “, yang juga merupakan teks terakhir dari dasar Negara Indonesia yaitu Pancasila. Adilkah ini..??? batinku bertanya, kemudian lamunanku kembali mengingat sebuah buku yang sering kurangkul sampai tidur bila diberi PR oleh guru untuk di hafal buku tipis bersampul putih didalamnya terdapat rentetan pasal-pasal Negara Indonesia salah satunya pasal 34 yang berbunyi “ Fakir miskin dan anak-anak yang terlantar dipelihara oleh Negara “. Apaka itu benar…buseeettt…persetan dengan itu semua…!!!, batinku merontah,…,dimana janji mereka (pemerintah kita) yang dulu dikomandangkan saat kampanye pemilihan, disaat anak dibawah umur yang menanggung beban hidup yang begitu berat, ber gumul dengan panasnya terik, dan keringat bercampur debu jalanan, mereka asik tidul pulas diatas kasur busa yang empuk serta menggunakan fasilitas yang mewah…!!! Adilkah ini tuhannn???, tiba-tiba aku tersentak dan terjaga dari lamunanku saat dengungan bunyi klakson dari belakang…!!!, ternyata lampu merah sudah berganti hijau…., kumasukkan persenelan motorku dan tancap gas…sekilas kutolehkan kepalaku kearah belakang kulihat anak itu kembali berbaring di trotoar,,,dan lama kelamaan pandanganku terhalang oleh asap kendaraan…….!!!</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/arulghost.wordpress.com/185/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/arulghost.wordpress.com/185/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/arulghost.wordpress.com/185/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/arulghost.wordpress.com/185/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/arulghost.wordpress.com/185/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/arulghost.wordpress.com/185/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/arulghost.wordpress.com/185/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/arulghost.wordpress.com/185/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/arulghost.wordpress.com/185/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/arulghost.wordpress.com/185/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/arulghost.wordpress.com/185/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/arulghost.wordpress.com/185/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/arulghost.wordpress.com/185/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/arulghost.wordpress.com/185/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=arulghost.wordpress.com&amp;blog=8471244&amp;post=185&amp;subd=arulghost&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://arulghost.wordpress.com/2010/04/15/tepi-trotoar-lampumerah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/cfdd98dadb37b02924fefe7184b6b757?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">arulghost</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://arulghost.files.wordpress.com/2010/04/anak_koran.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Anak_koran</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Makna Pemmali Dalam Budaya Bugis</title>
		<link>http://arulghost.wordpress.com/2010/01/27/makna-pemmali-dalam-budaya-bugis/</link>
		<comments>http://arulghost.wordpress.com/2010/01/27/makna-pemmali-dalam-budaya-bugis/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 27 Jan 2010 08:26:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>arulbugines</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Rakyat]]></category>
		<category><![CDATA[Cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[Kata kata Bijak]]></category>
		<category><![CDATA[Puisi]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah daerah]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah suku]]></category>
		<category><![CDATA[budaya]]></category>
		<category><![CDATA[budaya bugis]]></category>
		<category><![CDATA[pantun]]></category>
		<category><![CDATA[suku bugis]]></category>
		<category><![CDATA[the bugis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://arulghost.wordpress.com/?p=181</guid>
		<description><![CDATA[Makna pemmali dalam Budaya Bugis Oleh: Ahmad Maulana Agung Pemmali merupakan istilah dalam masyarakat Bugis yang digunakan untuk menyatakan larangan kepada seseorang yang berbuat dan mengatakan sesuatu yang tidak sesuai. Pemmali dalam bahasa Indonesia diterjemahkan menjadi &#8220;pemali&#8221; yang memiliki makna pantangan, larangan berdasarkan adat dan kebiasaan. Masyarakat Bugis meyakini bahwa pelanggaran terhadap pemmali akan mengakibatkan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=arulghost.wordpress.com&amp;blog=8471244&amp;post=181&amp;subd=arulghost&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://arulghost.files.wordpress.com/2010/01/foto264.jpg"><img src="http://arulghost.files.wordpress.com/2010/01/foto264.jpg?w=300&#038;h=225" alt="" title="Foto(264)" width="300" height="225" class="alignright size-medium wp-image-182" /></a><strong>Makna pemmali dalam Budaya Bugis</strong><br />
Oleh: Ahmad Maulana Agung</p>
<p><strong>Pemmali</strong> merupakan istilah dalam masyarakat Bugis yang digunakan untuk menyatakan larangan kepada seseorang yang berbuat dan mengatakan sesuatu yang tidak sesuai. Pemmali dalam bahasa Indonesia diterjemahkan menjadi &#8220;pemali&#8221; yang memiliki makna pantangan, larangan berdasarkan adat dan kebiasaan.</p>
<p>     Masyarakat Bugis meyakini bahwa pelanggaran terhadap pemmali akan mengakibatkan ganjaran atau kutukan. Kepercayaan masyarakat Bugis terhadap pemmali selalu dipegang teguh. Fungsi utama pemmali adalah sebagai pegangan untuk membentuk pribadi luhur. Dalam hal ini pemmali memegang peranan sebagai media pendidikan budi pekerti.</p>
<p>Bentuk-bentuk Pemmali<br />
     Pemmali dalam masyarakat Bugis dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu pemmali dalam bentuk perkataan dan pemmali dalam bentuk perbuatan.</p>
<p>1. Pemmali Bentuk Perkataan<br />
     Pemmali bentuk ini berupa tuturan atau ujaran. Biasanya berupa kata-kata yang dilarang atau pantang untuk diucapkan. Kata-kata yang pantang untuk diucapkan disebut kata tabu. Contoh kata tabu yang merupakan bagian pemmali berbentuk perkataan misalnya balawo â˜tikusâ, buaja â˜buayaâ, guttu â˜gunturâ. Kata-kata tabu seperti di atas jika diucapkan diyakini akan menghadirkan bencana atau kerugian. Misalnya, menyebut kata balawo (tikus) dipercaya masyarakat akan mengakibatkan gagal panen karena serangan hama tikus. Begitu pula menyebut kata buaja â˜buayaâ dapat mengakibatkan Sang Makhluk marah sehingga akan meminta korban manusia.</p>
<p>     Untuk menghindari penggunaan kata-kata tabu dalam berkomunikasi, masyarakat Bugis menggunakan eufemisme sebagai padanan kata yang lebih halus. Misalnya, kata punna tanah â penguasa tanah â digunakan untuk menggantikan kata balawo, punna uwae â˜penguasa airâ digunakan untuk menggantikan kata buaja.</p>
<p>2. Pemmali Bentuk Perbuatan atau Tindakan<br />
     Pemmali bentuk perbuatan atau tindakan merupakan tingkah laku yang dilarang untuk dilakukan guna menghindari datangnya bahaya, karma, atau berkurangnya rezeki.</p>
<p><span id="more-181"></span><br />
     Beberapa contoh pemmali dan maknanya:<br />
(1) Riappemmalianggi anaâ daraE makkelong ri dapurennge narekko mannasui (Pantangan bagi seorang gadis menyanyi di dapur apabila sedang memasak atau menyiapkan makanan).</p>
<p>     Masyarakat Bugis menjadikan pantangan menyanyi pada saat sedang memasak bagi seorang gadis. Akibat yang dapat ditimbulkan dari pelanggaran terhadap larangan ini adalah kemungkinan sang gadis akan mendapatkan jodoh yang sudah tua. Secara logika, tidak ada hubungan secara langsung antara menyanyi di dapur dengan jodoh seseorang. Memasak merupakan aktivitas manusia, sedangkan jodoh merupakan faktor nasib, takdir, dan kehendak Tuhan.Jika dimaknai lebih lanjut, pemmali di atas sebenarnya memiliki hubungan erat dengan masalah kesehatan. Menyanyi di dapur dapat mengakibatkan keluarnya ludah kemudian terpercik ke makanan. Dengan demikian perilaku menyanyi pada saat memasak dapat mendatangkan penyakit. Namun, ungkapan atau larangan yang bernilai bagi kesehatan ini tidak dilakukan secara langsung, melainkan diungkapkan dalam bentuk pemmali.</p>
<p>(2) Deq nawedding anaq daraE matinro lettu tengga esso nasabaq labewi dalleqna (Gadis tidak boleh tidur sampai tengah hari sebab rezeki akan berlalu).</p>
<p>     Bangun tengah hari melambangkan sikap malas. Apabila dilakukan oleh gadis, hal ini dianggap sangat tidak baik. Jika seseorang terlambat bangun, maka pekerjaannya akan terbengkalai sehingga rezeki yang bisa diperoleh lewat begitu saja. Terlambat bangun bagi gadis juga dihubungkan dengan kemungkinan mendapatkan jodoh. Karena dianggap malas, lelaki bujangan tidak akan memilih gadis seperti ini menjadi istri. Jodoh ini merupakan salah satu rezeki yang melayang karena terlambat bangun.</p>
<p>     Dari tinjauan kesehatan, bangun tengah hari dapat mengakibatkan kondisi fisik menjadi lemah. Kondisi yang lemah menyebabkan perempuan (gadis) tidak dapat beraktivitas menyelesaikan kebutuhan rumah tangga. Masyarakat Bugis menempatkan perempuan sebagai pemegang kunci dalam mengurus rumah tangga. Perempuan memiliki jangkauan tugas yang luas, misalnya mengurus kebutuhan suami dan anak.</p>
<p>(3) Riappemmalianggi matinro esso taue ri sese denapa natabbawa ujuna taumate engkae ri bali bolata<br />
(Pantangan orang tidur siang jika jenazah yang ada di tetangga kita belum diberangkatkan ke kuburan).</p>
<p>     Pemmali ini menggambarkan betapa tingginya penghargaan masyarakat Bugis terhadap sesamanya. Jika ada tetangga yang meninggal, masyarakat diharapkan ikut mengurus. Masyarakat biasanya berdatangan ke tempat jenazah disemayamkan untuk memberikan penghormatan terakhir dan sebagai ungkapan turut berduka cita bagi keluarga yang ditinggalkan. Masyarakat yang tidak dapat melayat jenazah karena memiliki halangan dilarang untuk tidur sebelum jenazah dikuburkan. Mereka dilarang tidur untuk menunjukkan perasaan berduka atau berempati dengan suasana duka yang dialami keluarga orang yang meninggal.</p>
<p>(4) Pemmali mattula bangi tauwe nasabaq macilakai (Pantangan bertopang dagu sebab akan sial).</p>
<p>     Bertopang dagu menunjukkan sikap seseorang yang tidak melakukan sesuatu. Pekerjaannya hanya berpangku tangan. Perbuatan ini mencerminkan sikap malas. Tidak ada hasil yang bisa didapatkan karena tidak ada pekerjaan yang dilakukan. Orang yang demikian biasanya hidup menderita. Ia dianggap sial karena tidak mampu melakukan pekerjaan yang mendatangkan hasil untuk memenuhi kebutuhannya. Ketidakmampuan tersebut mengakibatkan hidupnya menderita.</p>
<p>(5) Pemmali lewu moppang ananaE nasabaq magatti mate indoqna (Pemali anak-anak berbaring tengkurap sebab ibunya akan cepat meninggal).</p>
<p>     Tidur tengkurap merupakan cara tidur yang tidak biasa. Cara tidur seperti ini dapat mengakibatkan ganguan terhadap kesehatan, misalnya sakit di dada atau sakit perut. Pemali ini berfungsi mendidik anak untuk menjadi orang memegang teguh etika, memahami sopan santun, dan menjaga budaya. Anak merupakan generasi yang harus dibina agar tumbuh sehingga ketika besar ia tidak memalukan keluarga.</p>
<p>(6) Pemmali kalloloe manrewi passampo nasabaq iyaro nasabaq ipancajiwi passampo siri (Pemali bagi remaja laki-laki menggunakan penutup sebagai alat makan sebab ia akan dijadikan penutup malu).</p>
<p>     Laki-laki yang menggunakan penutup benda tertentu (penutup rantangan, panci, dan lainnya) sebagai alat makan akan menjadi penutup malu. Penutup malu maksudnya menikahi gadis yang hamil di luar nikah akibat perbuatan orang lain. Meski pun bukan dia yang menghamili, namun dia yang ditunjuk untuk mengawini atau bertanggung jawab. Inti pemali ini adalah memanfaatkan sesuatu sesuai fungsinya.</p>
<p>     Menggunakan penutup (penutup benda tertentu) sebagai alat makan tidak sesuai dengan etika makan. Penutup bukan alat makan. Orang yang makan dengan penutup merupakan orang yang tidak menaati sopan santun dan etika makan. Akibat lain yang ditimbulkan jika menggunakan penutup sebagai alai makan adalah debu akan terbang masuk ke makanan. Akhirnya, makanan yang ada di wadah tertentu menjadi kotor karena tidak memiliki penutup. Hal ini sangat tidak baik bagi kesehatan karena dapat mendatangkan penyakit.</p>
<p>(7) Pemmali saleiwi inanre iyarega uwae pella iya puraE ipatala nasabaq mabisai nakenna abalaq (Pemali meninggalkan makanan atau minuman yang sudah dihidangkan karena biasa terkena bencana).</p>
<p>     Pemali ini memuat ajaran untuk tidak meninggalkan makanan atau minuman yang telah dihidangkan. Meninggalkan makanan atau minuman yang sengaja dibuatkan tanpa mencicipinya adalah pemborosan. Makanan atau minuman yang disiapkan itu menjadi mubazir. Makanan bagi masyarakat Bugis merupakan rezeki besar. Orang yang meninggalkan makanan atau minuman tanpa mencicipi merupakan wujud penolakan terhadap rezeki. Selain itu, menikmati makanan atau minuman yang dihidangkan tuan rumah merupakan bentuk penghoramatan seorang tamu terhadap tuan rumah. Meninggalkan makanan dapat membuat tuan rumah tersinggung.</p>
<p>     Berdasarkan beberapa contoh yang dipaparkan di atas, pemmali dapat dikategorikan ke dalam beberapa bagian, yaitu menurut jenis kelamin, usia, atau bidang kegiatan. Pemmali dalam masyarakat Bugis merupakan nilai budaya yang sarat dengan muatan pendidikan. Pemmali umumnya memiliki makna yang berisi anjuran untuk berbuat baik, baik perbuatan yang dilakukan terhadap sesama maupun perbuatan untuk kebaikan diri sendiri. Pemmali sangat kaya nilai luhur dalam pergaulan, etika, kepribadian, dan sopan santun. Melihat tujuannya yang begitu luhur, pemmali merupakan nilai budaya Bugis yang mutlak untuk terus dipertahankan.</p>
<p>Kepustakaan<br />
Suriana. Makna Pemmali dalam Masyarakat Bugis Soppeng.<br />
Sulo, Hartati. Makna Pemmali dalam Masyarakat Petani di Kabupaten Soppeng.<br />
Mattulada. Kebudayaan, Kemanusian, dan Lingkungan. </p>
<p>Sumber:</p>
<p>http://www.wacananusantara.org/1/188/makna-pemmali-dalam-budaya-bugis?PHPSESSID=a49243de9aa2a634c473892da3763678</p>
<p>http://lagaligo.net/2008/11/makna-pammali-dalam-budaya-bugis/</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/arulghost.wordpress.com/181/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/arulghost.wordpress.com/181/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/arulghost.wordpress.com/181/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/arulghost.wordpress.com/181/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/arulghost.wordpress.com/181/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/arulghost.wordpress.com/181/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/arulghost.wordpress.com/181/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/arulghost.wordpress.com/181/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/arulghost.wordpress.com/181/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/arulghost.wordpress.com/181/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/arulghost.wordpress.com/181/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/arulghost.wordpress.com/181/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/arulghost.wordpress.com/181/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/arulghost.wordpress.com/181/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=arulghost.wordpress.com&amp;blog=8471244&amp;post=181&amp;subd=arulghost&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://arulghost.wordpress.com/2010/01/27/makna-pemmali-dalam-budaya-bugis/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/cfdd98dadb37b02924fefe7184b6b757?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">arulghost</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://arulghost.files.wordpress.com/2010/01/foto264.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Foto(264)</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Puisi , Pantun dan Teka-Teki Suku Bugis</title>
		<link>http://arulghost.wordpress.com/2010/01/27/puisi-pantun-dan-teka-teki-suku-bugis/</link>
		<comments>http://arulghost.wordpress.com/2010/01/27/puisi-pantun-dan-teka-teki-suku-bugis/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 27 Jan 2010 08:02:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>arulbugines</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Rakyat]]></category>
		<category><![CDATA[Cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[Kata kata Bijak]]></category>
		<category><![CDATA[Puisi]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah suku]]></category>
		<category><![CDATA[adat bugis]]></category>
		<category><![CDATA[budaya bugis]]></category>
		<category><![CDATA[cerita bugis]]></category>
		<category><![CDATA[pantun bugis]]></category>
		<category><![CDATA[puisi bugis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://arulghost.wordpress.com/?p=175</guid>
		<description><![CDATA[Puisi, Pantun dan Teka-teki suku Bugis Oleh M aan Mansyur KEBESARAN epos-mitos La Galigo telah membunuh banyak genre sastra klasik Bugis. La Galigo yang diduga sebagai karya sastra terpanjang dalam sejarah sastra dunia itu terlalu banyak menyedot perhatian kritikus, peminat dan peneliti seni. Mereka, para peminat dan peneliti seni itu, lupa bahwa begitu banyak karya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=arulghost.wordpress.com&amp;blog=8471244&amp;post=175&amp;subd=arulghost&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://arulghost.files.wordpress.com/2010/01/foto002.jpg"><img src="http://arulghost.files.wordpress.com/2010/01/foto002.jpg?w=300&#038;h=225" alt="" title="Foto(002)" width="300" height="225" class="alignleft size-medium wp-image-176" /></a><br />
<strong>Puisi, Pantun dan Teka-teki suku Bugis</strong><br />
Oleh M aan Mansyur<br />
KEBESARAN epos-mitos La Galigo telah membunuh banyak genre sastra klasik Bugis. La Galigo yang diduga sebagai karya sastra terpanjang dalam sejarah sastra dunia itu terlalu banyak menyedot perhatian kritikus, peminat dan peneliti seni. Mereka, para peminat dan peneliti seni itu, lupa bahwa begitu banyak karya sastra Bugis lain yang menarik untuk diperbincangkan.</p>
<p>BANYAKNYA ragam genre sastra Bugis bisa dibaca dalam satu bab The Bugis, buku hasil penelitian Christian Pelras selama puluhan tahun di tanah Bugis. Selain jumlahnya yang diperkirakan sampai 2.500.000 karya, kualitas karya-karya itu juga sangat layak untuk jadi bahan kajian. Sebuah tulisan Roger Tol di jurnal KITLV edisi 148-1 (1992: 82-102) memaksa tulisan ini lahir. Roger Tol membahas sebuah genre puisi Bugis, élong, dalam tulisan tersebut. Tulisan ini akan membicarakan ulang satu jenis élong yang sangat unik yakni élong maliung bettuanna, puisi teka-teki yang harus menggunakan rumus tertentu agar bertemu jawabannya. Menurut Salim (1990:3-5), sedikitnya ada 14 jenis élong yang bisa dibedakan menurut isi (content), peristiwa (occasion) di mana lagu itu nyanyikan dan terakhir sifat-sifat formalnya (formal peculiarities).</p>
<p>Ada élong yang secara khusus membicarakan perihal keluarga, agama dan hiburan semata. Sejumlah lainnya dipentaskan pada peristiwa-persitiwa khusus, semisal élong madduta (lagu melamar) dan élong osong (lagu perang). Ada juga élong, seperti puisi klasik Jepang, haiku, yang terdiri dari aturan-aturan baris dan jumlah silabel. Lainnya, terdapat élong yang rangkaian huruf awalnya membentuk nama-nama hari. Keunikan-keunikan itulah yang membuat élong bisa menjadi media untuk melakukan permainan bahasa seperti yang juga akan dibahas dalam tulisan ini. Macam-macam élong bisa ditemukan dalam beberapa buku, beberapa di antaranya adalah Salim (1969-71, 1990), Sikki (1978:277-323), dan paling komprehensif adalah koleksi élong yang dikumpulkan oleh pionir pengkaji Bugis dan Makassar, Matthes (1872a:370-409, 1883) .</p>
<p>Tak berbeda dengan pantun, élong sekaligus bisa menjadi sastra lisan dan tulisan. Nama élong (secara harafiah berarti ‘lagu’) sendiri menunjukkan bahwa puisi ini awalnya adalah sastra lisan. Dalam sejarahnya kadang-kadang élong memang dipertunjukkan atau dinyanyikan dengan iringan instrumen seperti biolin dan suling, meskipun juga sering tanpa iringan apa-apa (Sikki, 1978:xi). Dulu, élong bahkan sering dijadikan sebagai salah satu jenis lomba—sambil berpesta pora minum tuak dan makan melimpah.</p>
<p>Sebelum akhirnya hilang dari kehidupan keseharian orang Bugis, élong masih digunakan dalam prosesi melamar, di mana dua kelompok, masing-masing dari pihak laki dan perempuan, saling melempar bait-bait élong hingga hadirnya kesepakatan pernikahan. Semakin lihai kelompok pelamar menggubah bait-bait élong, semakin besar peluang lamarannya diterima. Hal seperti itu tak lagi bisa ditemukan di daerah Bugis sekarang ini. Hampir selalu, status dan harta menjadi faktor paling menentukan diterima atau tidaknya sebuah lamaran. Di daerah Bone, Pinrang dan Sidrap, misalnya, orang tua seorang gadis bisa saja meminta uang ratusan juta sebagai syarat pernikahan.</p>
<p><span id="more-175"></span></p>
<p>Menyembunyikan Maksud di Balik Tiga Lapis Sarung<br />
NAMPAKNYA seperti dikatakan oleh dua baris akhir sebuah soneta Shakespeare, so long as men can breathe or eyes can see,/so long lives this, and this gives lives to thee, orang Bugis sejak lama telah menyadari signifikansi puisi. Misalnya saja dengan membuat aturan-aturan tertentu untuk memahami sebuah bait élong maliung bettuanna. Aturan-aturan khusus itulah yang membuat genre puisi ini menjadi sangat unik dan menarik. Tidak saja dalam élong maliung bettuanna, tetapi begitu banyak karya-karya penting, pendek maupun panjang, ditulis menggunakan puisi.</p>
<p>Tak banyak peminat dan sarjana sastra yang membahas jenis puisi élong maliung bettuanna mungkin dikarenakan dua faktor penting yang sama-sama susah dipahami; matra dan archaic vocubulary yang digunakan. Secara harafiah, élong maliung bettuanna berarti ‘lagu yang dalam maknanya’ (maliung berarti ‘dalam’ dan bettuanna berarti ‘artinya’ atau ‘maknanya’). Dengan kata lain, élong ini adalah puisi dengan makna tersembunyi. Sebagaimana jenis élong lain, élong maliung bettuanna pun menggunakan simbol, matra dan bentuk khas. Tetapi jenis élong ini memiliki satu perbedaan yakni penggunaan crypto-language yang sangat khas yang disebut Basa to Bakke’.</p>
<p>Basa to Bakke’ secara harafiah berarti ‘bahasa orang-orang Bakke’’. Sebenarnya penamaan ini merujuk kepada seseorang bernama Datu Bakke’, Pangeran dari Bakke’, yang dikenang karena kecerdasan dan keintelektualannya. Nama orang ini banyak disebut-sebut dalam literatur sejarah Bugis, utamanya Soppeng. Bakke’ sendiri adalah nama sebuah daerah di Soppeng, Sulawesi Selatan. Bisa terjadi kesalahpengertian di sini, sebab seolah-olah ada bahasa lain selain bahasa Bugis yang digunakan dalam puisi Bugis ini. Sehingga sesungguhnya Basa to Bakke lebih cocok diartikan sebagai permainan bahasa Bakke’.</p>
<p>Basa to Bakke’ menjadi ciri khas dalam puisi teka-teki Bugis atau élong maliung bettuanna ini. Sangat berlainan dengan pantun teka-teki yang hanya menggunakan simbol untuk menyembunyikan jawaban, teka-teki élong maliung bettuanna tersembunyi di balik tiga lapis sarung. Untuk tiba pada makna sesungguhnya yang ingin disampaikan oleh penulisnya, tiga lapis sarung itu harus disingkap satu per satu.</p>
<p>Kalau tuan bawa keladi<br />
Bawakan juga si pucuk rebung<br />
Kalau tuan bijak bestari<br />
Binatang apa tanduk di hidung ?</p>
<p>Bandingkan pantun di atas dengan sebuah teka-teki a la puisi Bugis yang dikutip dari Tol dkk (1992:85) berikut ini:</p>
<p>Kégana mumaberrekkeng,<br />
buaja bulu’édé,<br />
lompu’ walennaé?</p>
<p>(Mana lebih kau suka,<br />
buaya gunung,<br />
atau lumpur sungai?)</p>
<p>Tentu tak susah menemukan jawaban teka-teki pantun di atas. Pantun itu adalah teka-teki Budi di buku Pelajaran Bahasa Indonesia untuk murid Kelas III Sekolah Dasar zaman orde baru. Tetapi bagaimana menemukan ‘jawaban’ teka-teki Bugis di atas? Sebenarnya puisi itu ingin menyampaikan makna: ‘mana lebih kau suka, perempuan cerdas atau perempuan cantik?’.</p>
<p>Bagi yang paham aksara Bugis, tentu masih ingat bahwa aksara Bugis memiliki beberapa keunikan dibandingkan, misalnya, dengan aksara Latin. Aksara Bugis, sebagaimana kebanyakan aksara di Asia, memiliki kecacatan. Kekurangan yang sekaligus bisa jadi kelebihan itu di antaranya adalah tidak adanya huruf mati (final velar nasals), glottal stop, dan konsonan rangkap (geminated consonants). Aksara Bugis, nyaris sama dengan aksara Jepang, setiap hurufnya adalah satu suku kata (syllabel). Satu silabel dalam aksara Bugis bisa dibaca dengan berbagai cara. Contohnya, huruf untuk silabel ‘pa’ bisa saja dibaca /pa/, /ppa/, /pang/, /ppang/, /pa’/, atau /ppa’/. Keunikan aksara Bugis inilah yang dieksplorasi oleh permainan Basa to Bakke’ dalam élong maliung bettuanna.</p>
<p>Dalam satu élong yang disebutkan tadi, sarung pertama yang harus disingkap untuk menemukan jawabannya telah dilakukan dengan memperlihatkan arti puisi itu. Langkah pertama itu adalah mengidentifikasi pernyataan (frase). Ada dua frase dalam puisi itu yang harus diperhatikan, buaja bulue’édé dan lompu’ walennaé. Buaja bulu’édé berarti ‘buaya gunung’ dan lompu’ walennaé berarti ‘lumpur sungai’.</p>
<p>Setelah mengidentifikasi pernyataan, langkah kedua adalah menemukan apa rujukan dari frase yang telah ditemukan. Dalam penyingkapan sarung kedua ini, memang sangat erat kaitannya dengan pengetahuan dan alam pikiran budaya Bugis. Buaja bulu’édé (buaya gunung) dalam budaya Bugis merujuk kepada macang (macan) dan lompu’ walannaé (lumpur sungai) menunjuk kepada kessi’ (pasir).</p>
<p>Jika hanya sampai di sini, puisi itu akan berarti ‘mana yang lebih kau suka, macan atau pasir?’ Tentulah ini akan menjadi sebuah pernyataan yang tidak logis. Tetapi memang bukanlah itu yang sesungguhnya ingin disampaikan puisi tersebut. Masih ada satu lapis sarung yang harus disingkapkan. Di tahapan inilah permainan bahasa tadi digunakan. Dalam tulisan aksara Bugis, kata macang (macan) sama dengan macca’ (cerdas) dan kessi’ (pasir) sama dengan kessing (elok atau cantik). Masing-masing ditulis /ma-ca/ (ingat, tak ada final velar nasals dan geminated consonant dalam aksara Bugis) dan /ke-si/ (ingat juga tak ada glottal stop).</p>
<p>Akhirnya makna puisi itu menjadi ‘mana yang lebih kau suka, (perempuan) cerdas atau (perempuan) cantik?’.</p>
<p>Perhatikan satu contoh lagi berikut ini:</p>
<p>Gellang riwata’ majjékko,<br />
Anré-anréna to Menre’é,<br />
aténa unnyié.</p>
<p>(Tembaga melengkung di ujung,<br />
makanan orang Mandar,<br />
hati kunyit.)</p>
<p>Puisi teka-teki yang berarti ‘aku mencintaimu’ ini bisa disingkap jawabannya dengan cara yang sama. Gellang riwata’ majjékko merujuk kepada méng (kail), anré-anréna to Menre’é merujuk kepada loka (pisang)—konon Orang Bugis dulu menganggap makanan pokok orang Mandar adalah pisang, dan aténa unnyié merujuk kepada ridi (kuning). Jika tiga kata itu dituliskan dalam aksara Bugis akan menjadi /me-lo-ka-ri-di/. Rangkaian huruf ini bisa juga dibaca mélo’ ka ridi yang artinya ‘aku mencintaimu’.</p>
<p>Tiga lapis sarung itu bisa diuraikan lebih rinci seperti berikut; sarung pertama, mengenali frase yang menyimpan kiasan atau sampiran dan bunyi. Dalam puisi di atas, setiap barisnya menyimpan masing-masing satu frase untuk mengenali sampiran itu; gellang riwata majjékko, anré-anréna to Menre’é, dan aténa unnyié. Sampiran dari frase itu, secara berurutan masing-masing; méng (kail), loka (pisang), dan ridi (kuning). Lapis kedua adalah bunyi méng, loka, dan ridi. Bunyi tiga kata itu membawa kita ke lapis sarung selanjutnya untuk menemukan makna (isi), bunyi meng dalam aksara Bugis ditulis /me/, bunyi loka ditulis /lo-ka/, dan bunyi ridi ditulis /ri-di/. Untuk menemukan makna élong semua bunyi itu dirangkai menjadi /me-lo-ka-ri-di/. Rangkaian bunyi itu jika dibaca menjadi mélo’ka ridi yang maknanya ‘aku mencintaimu’.</p>
<p>Jika dalam pantun baris pertama-kedua adalah sampiran dan baris ketiga-keempat adalah isi, maka dalam élong maliung bettuanna bunyi (lapis kedua) yang menjadi sampiran sekaligus petunjuk untuk masuk ke lapis selanjutnya yaitu isi.</p>
<p>Jika disederhanakan, rumus tiga lapis sarung untuk menyingkap makna élongmaliung bettuanna di atas bisa menjadi: (1) frase, (2) bunyi, dan (3) makna.</p>
<p>Lihat contoh berikut ini:</p>
<p>Inungeng mapekke’-pekke’<br />
balinna ase’édé,<br />
bali ulu balé.</p>
<p>(Minuman pekat,<br />
kebalikan atas,<br />
kebalikan kepala ikan.)</p>
<p>Setelah melalui proses penyingkapan makna, puisi ini berarti ’saya tak suka padamu’. Makna itu ditemukan dari rangkaian kata téng, awa, dan ikko yang jika dituliskan dengan aksara Bugis menjadi /te-a-wa-(r)i-ko/, ‘aku tidak mau atau benci padamu’. Frase élong itu adalah inungeng mapekke-pekke, balinna ase’édé, dan bali ulu balé. Bunyi yang dihasilkan frase itu adalah téng (teh), awa (bawah), dan ikko (ekor). Bunyi ini jika dituliskan dalam aksara Bugis akan menjadi /te-a-wa-(r)i-ko/. Rangkaian aksara Bugis itu bisa juga terbaca téawa (r)iko, ‘aku tak suka padamu’.</p>
<p>Vopel (1967:3) mengatakan bahwa kemungkinan puisilah bahasa paling rumit di dunia ini. Disebut paling rumit karena puisi menghendaki kepadatan (compactness) dalam pengungkapan. Kepadatan ini tidak hanya tercermin lewat kata-kata yang memiliki bobot makna yang berdaya jangkau lebih luas ketimbang bahasa sehari-hari. Kepadatan juga berperan sebagai pembangun dimensi lapis kedua seperti membangun kesan atau efek imagery, tatanan ritmis di tiap baris, membentuk nada suara sebagai cermin sikap penulis semisal sinis, ironis, atau hiperbolis terhadap pokok persoalan yang diangkat. Dan yang lebih penting juga adalah membangun dimensi lain yang hadir tanpa terlihat karena berada di balik makna literal dan atau di balik bentuk yang dipilih. Tuntutan-tuntutan semacam itu tentu lebih longgar pada genre lain seperti prosa (cerita pendek dan novel).</p>
<p>Selain puitis, élong maliung bettuanna juga memang kelihatan rumit dan berlapis-lapis. Namun jika menemukan rumusnya, puisi ini tidak akan serumit yang kita duga. Sungguh, alangkah pintar orang-orang Bugis (dulu) menyembunyikan maksudnya di balik berlapis-lapis sarung.</p>
<p>Permainan Bahasa, Kunci Jawaban<br />
SEPERTI telah kita lihat, élong maliung bettuanna mengandung dua atau tiga pernyataan teka-teki. Jika kita telah menemukan rujukan yang ditunjuk oleh frase-frase itu, kita akan segera menemukan makna puisi—tentu saja jika paham bahasa dan aksara Bugis. Permainan basa to bakke’ memang menjadi kunci jawaban dari teka-teki dalam sebuah élong maliung bettuanna. Permainan bahasa inilah yang paling menarik dari jenis puisi ini, hal yang kemungkinan besar tak akan ditemui dalam puisi lain.</p>
<p>Sesungguhnya, dalam élong maliung bettuanna ada pola-pola umum permainan bahasa orang Bakke yang paling sering digunakan. Basa to Bakke biasanya menggunakan tiga macam topik dalam frasenya; 1) yang berhubungan dengan nama daerah atau tempat (geographical), 2) tentang tumbuh-tumbuhan (botanical), dan 3) tentang binatang (zoological). Memang ada beberapa pengecualian, tetapi ketiga topik itulah yang paling sering digunakan.</p>
<p>TERNYATA bahasa Bugis bisa menjadi permainan yang menarik. Keunikan bahasa seperti itulah yang membuat puisi Bugis menjadi berbeda dibandingkan jenis puisi lainnya. Meski élong maliung bettuanna tak lagi pernah dipentaskan atau dituliskan, meliriknya kembali bisa menjadi alternatif.</p>
<p>Mengadopsi puisi Bugis ini bisa menjadi jawaban atas kejenuhan banyak kritikus sastra yang menganggap puisi modern Indonesia terperangkap oleh segelintir nama-nama besar, seperti Sapardi Djoko Damono, Suardji Calzum Bachri, Goenawan Mohamad dan Afrizal Malna. Kekuatan élong maliung bettuanna salah satunya adalah ketercapaian dan keseimbangan dua kekuatan, bentuk dan isi—hal yang semakin susah ditemukan oleh penyair-penyair Indonesia kontemporer. Tak banyak jenis puisi yang mampu mengawinkan bentuk dan isi seperti yang diperlihatkan oleh élong maliung bettuanna.</p>
<p>Selain aturan bunyi (fonologi) dan makna (semantik) yang telah dijelaskan di atas, sesungguhnya élong maliung bettuanna juga menarik untuk dilihat dari segi matra. Élong maliung bettuanna ini memiliki aturan matra, terdiri dari tiga baris dan tiap barisnya biasanya terdiri dari delapan, tujuh atau enam suku kata. Puisi-puisi Bugis seperti dijelaskan dalam Tol (1992:83) memiliki tiga jenis matra; pentasyllabic metre (seperti yang diperlihatkan dalam La Galigo), octosyllabic metre (seperti dalam teks puisi-puisi naratif Bugis) dan élong metre.</p>
<p>Meskipun memang rumit memahami genre ini, namun tetap terbuka banyak pintu untuk masuk dan menikmati élong maliung bettuanna, salah satunya melalui permainan bahasa. Permainan bahasa seperti Basa to Bakke’ yang telah dijelaskan dalam tulisan ini mungkin pula akan membuat, khususnya orang-orang Bugis, belajar dan mencintai kembali bahasa dan aksara Bugis. Selain tak berminat pada sastra klasik, orang-orang juga mulai tak meminati bahasa daerah.[]<br />
Sumber &gt;&gt;&gt;&gt;&gt;&gt;  http://www.ininnawa.org/article25.html</p>
<p>Referensi:<br />
1. Fachruddin Ambo Enre, 1983, Ritumpanna Weelenrennge, telaah filologis sebuah Episode Bugis klasik, Jakarta: Universitas Indonesia.<br />
2. Kennedy, J.X, 1991. Literaure: an Introduction to Fiction, Poetry and Drama, (Fifth Edition). New York: harper Collins Publisher.<br />
3. Mattulada, 1985, Latoa; satu lukisan analitis terhadap antropologi politik orang Bugis, Yogyakarta: Universitas Gajah Mada<br />
4. Muhammad Salim, 1969-71, Transliterasi dan Terjemahan elong Ugi (kajian naskah Bugis), Ujung pandang: Departemen P dan K, Bagian Proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Sulawesi Selatan.<br />
5. Muhammad Sikki, dkk, 1978, Terjemahan beberapa naskah lontara Bugis, Ujung Pandang: Balai Penelitian Bahasa.<br />
6. Pelras, Christian, 2006, Manusia Bugis, Jakarta: Nalar.<br />
7. Perrine, Laurence, 1974, Literatre: Structure, Sound and sense. (Second Edition). New York: Harcourt Brace Javanovisch Inc.<br />
8. Rahman Daeng Palallo, 1968, ‘Bahasa Bugis; Dari hal elong maliung bettuanna (pantun jang dalam artinya)’, Bingkisan I.<br />
9. Tol, Roger, 1992, ‘Fish Food on a Tree Branch; Hidden Meanings in Bugis Poetry’, Leiden: Bijdragen tot de Taal-, land- en Volkenkunde 148 : 82-102.</p>
<p>Tulisan lebih lengkap mengenai ini juga pernah dimuat di www.puisi.net dan www.panyingkul.com.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/arulghost.wordpress.com/175/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/arulghost.wordpress.com/175/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/arulghost.wordpress.com/175/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/arulghost.wordpress.com/175/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/arulghost.wordpress.com/175/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/arulghost.wordpress.com/175/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/arulghost.wordpress.com/175/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/arulghost.wordpress.com/175/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/arulghost.wordpress.com/175/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/arulghost.wordpress.com/175/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/arulghost.wordpress.com/175/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/arulghost.wordpress.com/175/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/arulghost.wordpress.com/175/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/arulghost.wordpress.com/175/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=arulghost.wordpress.com&amp;blog=8471244&amp;post=175&amp;subd=arulghost&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://arulghost.wordpress.com/2010/01/27/puisi-pantun-dan-teka-teki-suku-bugis/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/cfdd98dadb37b02924fefe7184b6b757?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">arulghost</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://arulghost.files.wordpress.com/2010/01/foto002.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Foto(002)</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Budaya Bugis</title>
		<link>http://arulghost.wordpress.com/2009/08/04/budaya-bugis/</link>
		<comments>http://arulghost.wordpress.com/2009/08/04/budaya-bugis/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 04 Aug 2009 05:41:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>arulbugines</dc:creator>
				<category><![CDATA[sejarah daerah]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah suku]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://arulghost.wordpress.com/?p=158</guid>
		<description><![CDATA[Budaya Bugis Sejarah Bugis Tidak seperti bahagian Asia Tenggara yang lain, Bugis tidak banyak menerima pengaruh India di dalam kebudayaan mereka. Satu-satunya pengaruh India yang jelas ialah tulisan Lontara yang berdasarkan skrip Brahmi,yang berkembang melalui arus perdagangan. Kekurangan pengaruh India, tidak seperti di Jawa dan Sumatra, mungkin disebabkan oleh komuniti awal ketika itu kuat menentang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=arulghost.wordpress.com&amp;blog=8471244&amp;post=158&amp;subd=arulghost&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Budaya Bugis</strong></p>
<p>Sejarah Bugis</p>
<p><a href="http://arulghost.files.wordpress.com/2009/08/rumah-suku-bugis.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-223" title="Rumah suku bugis" src="http://arulghost.files.wordpress.com/2009/08/rumah-suku-bugis.jpg?w=270&#038;h=187" alt="" width="270" height="187" /></a></p>
<p>Tidak seperti bahagian Asia Tenggara yang lain, Bugis tidak banyak menerima pengaruh India di dalam kebudayaan mereka. Satu-satunya pengaruh India yang jelas ialah tulisan Lontara yang berdasarkan skrip Brahmi,yang berkembang melalui arus perdagangan. Kekurangan pengaruh India, tidak seperti di Jawa dan Sumatra, mungkin disebabkan oleh komuniti awal ketika itu kuat menentang asimilasi budaya luar.<br />
Permulaan sejarah Bugis lebih kepada mitos dari sejarah lojik. Di dalam teks La Galigo, populasi awal adalah terdapat di pesisir pantai dan tebing sungai dan dan menempati wilayah wilayah yand dekat dengan pusat perairan. Penempatan di tanah tinggi pula didiami oleh orang Toraja. Penempatan-penempatan ini bergantung kepada salah satu daripada tiga pemerintahan yaitu Wewang Nriwuk, Luwu&#8217; dan Tompoktikka. Walau bagaimanapun, pada abad ke 15, terdapat kemungkinan penempatan awal tersebar di seluruh Tana Ugi, malahan jauh ketengah hutan dimana tidak dapat dihubungi melalui pengangkutan air. Mengikut mitos, terdapat migrasi yang ingin mencari tanah baru untuk didiami. Implikasi penempatan ditengah-tengah hutan ini ialah perubahan fizikal hutan, dimana hutan-hutan ditebang dan proses diteruskan sehingga abad ke 20.<br />
<span id="more-158"></span><br />
Suku Bugis adalah suku yang tergolong ke dalam suku suku Deutero-Melayu, atau Melayu muda. Masuk ke Nusantara setelah gelombang migrasi pertama dari daratan Asia tepatnya Yunan. Kata &#8216;Bugis&#8217; berasal dari kata To Ugi, yang berarti orang Bugis. Penamaan &#8220;ugi&#8221; merujuk pada raja pertama kerajaan Cina (bukan negara Tiongkok, tapi yang terdapat di jazirah Sulawesi Selatan tepatnya Kecamatan Pammana Kabupaten Wajo saat ini) yaitu La Sattumpugi. Ketika rakyat La Sattumpugi menamakan dirinya, maka mereka merujuk pada raja mereka. Mereka menjuluki dirinya sebagai To Ugi atau orang-orang/pengikut dari La Sattumpugi. La Sattumpugi adalah ayah dari We Cudai dan bersaudara dengan Batara Lattu, ayahanda dari Sawerigading. Sawerigading sendiri adalah suami dari We Cudai dan melahirkan beberapa anak termasuk La Galigo yang membuat karya sastra terbesar didunia dengan jumlah kurang lebih 9000 halaman folio. Sawerigading Opunna Ware (Yang dipertuan di ware) adalah kisah yang tertuang dalam karya sastra I La Galigo dalam tradisi masyarakat Bugis. Kisah Sawerigading juga dikenal dalam tradisi masyarakat Luwuk Banggai, Kaili, Gorontalo dan beberapa tradisi lain di Sulawesi seperti Buton.</p>
<p>Bahasa</p>
<div class="wp-caption alignleft" style="width: 264px"><a href="http://arulghost.files.wordpress.com/2009/08/huruf-lontara.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-217" title="Huruf Lontara" src="http://arulghost.files.wordpress.com/2009/08/huruf-lontara.jpg?w=254&#038;h=157" alt="" width="254" height="157" /></a><p class="wp-caption-text">aksara bugis</p></div>
<p>Bahasa Bugis adalah bahasa yang digunakan etnik Bugis di Sulawesi Selatan, yang tersebar di kabupaten sebahagian Kabupaten Maros, sebahagian Kabupaten Pangkep, Kabupaten Barru, Kota Pare-pare, Kabupaten Pinrang, sebahagian kabupaten Enrekang, sebahagian kabupaten Majene, Kabupaten Luwu, K</p>
<p>abupaten Sidenrengrappang, Kabupaten Soppeng,Kabupaten Wajo, Kabupaten Bone, Kabupaten Sinjai, Kabupaten Bulukumba, dan Kabupaten Bantaeng. Masyarakat Bugis memiliki penulisan tradisional memakai aksara Lontara. Pada dasarnya, suku kaum ini kebanyakannya beragama Islam Dari segi aspek budaya, suku kaum Bugis menggunakan dialek sendiri dikenali sebagai &#8216;Bahasa Ugi&#8217; dan mempunyai tulisan huruf Bugis yang dipanggil ‘aksara’ Bugis. Aksar</p>
<p>a ini telah wujud sejak abad ke-12 lagi sewaktu melebarnya pengaruh Hindu di Kepulauan Indonesia.<br />
Aksara Bugis</p>
<p>Mata Pencaharian</p>
<p>Karena masyarakat Bugis tersebar di dataran rendah yang subur dan pesisir, maka kebanyakan dari masyarakat Bugis hidup sebagai petani dan nelayan. Mata pencaharian lain yang diminati orang Bugis adalah pedagang. Selain itu masyarakat Bugis juga mengisi birokrasi pemerintahan dan menekuni bidang pendidikan.</p>
<p>Sistem kemasyarakatan.<br />
Dalam sistem perkawinan adat Bugis terdapat perkawinan ideal:<br />
1. Assialang maola<br />
Ialah perkawinan antara saudara sepupu derajat kesatu, baik dari pihak ayah maupun ibu.<br />
2. assialanna memang<br />
ialah perkawinan antara saudara sepupu derajat kedua, baik dari pihak ayah maupun ibu.<br />
3. ripaddeppe’ abelae<br />
ialah perkawinan antara saudara sepupu derajat ketiga, baik dari pihak ayah maupun ibu atau masih mempunyai hubungan keluarga<br />
Adapun perkawinan – perkawinan yang dilarang dan dianggap sumbang (salimara’):<br />
1. perkawinan antara anak dengan ibu / ayah<br />
2. perkawinan antara saudara sekandung<br />
3. perkawinan antara menantu dan mertua<br />
4. perkawinan antara paman / bibi dengan kemenakan<br />
5. perkawinan antara kakek / nenek dengan cucu</p>
<p>Tahap – tahap dalam perkawinan secara adat :<br />
1. Lettu ( lamaran)<br />
ialah kunjungan keluarga si laki-laki ke calon mempelai perempuan untuk menyampaikan keinginan nya untuk                    melamar calon mempelai perempuan<br />
2. Mappettuada. (kesepakatan pernikahan)<br />
Ialah kunjungan dari pihak laki-laki ke pihak perempuan untuk membicarakan waktu pernikahan,jenis sunrang atau         mas kawin,balanja atau belanja perkawinan penyelanggaran pesta dan sebagainya<br />
3. Madduppa (Mengundang)<br />
Ialah kegiatan yang dilakukan setelah tercapainya kesepakayan antar kedua bilah pihak untuk memberi tahu kepada        semua kaum kerabat mengenai perkawinan yang akan dilaksanakan.</p>
<p>4. Mappaccing (Pembersihan)</p>
<p>Ialah ritual yang dilakukan masyarakat bugis (Biasanya hanya dilakukan oleh kaum bangsawan), Ritrual ini dilakukan      padah malam sebelum akad nikah di mulai, dengan mengundang para kerabat dekat sesepuh dan orang yang                       dihormati untuk melaksanakan ritual ini, cara pelaksanaan nya dengan menggunakan daun pacci (daun pacar),                   kemudian para undangan di persilahkan untuk memberi berkah dan doa restu kepada calon mempelai, konon                     bertujuan untuk membersihkan dosa calon mempelai, dilanjutkan dengan sungkeman kepada kedua orang tua calon       mempelai.</p>
<div class="wp-caption alignleft" style="width: 248px"><a href="http://arulghost.files.wordpress.com/2009/08/pasangan-pengantin-bugis2.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-216" title="pasangan pengantin bugis2" src="http://arulghost.files.wordpress.com/2009/08/pasangan-pengantin-bugis2-e1315904522188.jpg?w=238&#038;h=266" alt="" width="238" height="266" /></a><p class="wp-caption-text">pasangan pengantin</p></div>
<p>Hari pernikahan dimulai dengan mappaenre balanja , ialah prosesi dari mempelai laki-laki disertai rombongan dari kaum kerabat, pria-wanita, tua-muda, dengan membawa macam-macam makanan, pakaian wanita, dan mas-kawin ke rumah mempelai wanita. Sampai di rumah mempelai wanita langsung diadakan upacara pernikahan,dilanjutkan dengan akad nikah. Pada pesta itu biasa para tamu memberikan kado tau paksolo’. setelah akad nikah dan pesta pernikahan di rumah mempelai wanita selesai dilalanjutkan dengan acara &#8220;mapparola&#8221; yaitu mengantar mempelai wanita ke rumah mempelai laki-laki.</p>
<p>Beberapa hari setelah pernikahan para pengantin baru mendatangi keluarga mempelai laki-laki dan keluarga mempelai wanita untuk bersilaturahmi dengan memberikan sesuatu yang biasanya sarung</p>
<div class="wp-caption alignleft" style="width: 266px"><a href="http://arulghost.files.wordpress.com/2009/08/mappenre-botting.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-215" title="Mappenre Botting" src="http://arulghost.files.wordpress.com/2009/08/mappenre-botting-e1315903965527.jpg?w=256&#038;h=167" alt="" width="256" height="167" /></a><p class="wp-caption-text">mappaenre botting</p></div>
<p>sebagai simbol perkenalan terhadap keluarga baru. Setelah itu, baru kedua mempelai menempati rumah mereka sendiri yang disebut nalaoanni alena.</p>
<p>Sistem Kemasyarakatan menurut Friedericy, dulu ada tiga lapisan pokok, yaitu:<br />
1. Anakarung : lapisan kaum kerabat raja-raja.<br />
2. To-maradeka Tu-mara-deka : lapisan orang merdeka yang merupakan sebagian besar dari rakyat Sulawesi Selatan.<br />
3. Ata : lapisan orang budak, yaitu orang yang ditangkap dalam peperangan, orang yang tidak dapat membayar hutang,      atau orang yang melanggar pantangan adat.<br />
Susunan Lapisan Gelar-gelar yang terdapat pada Suku Bugis:<br />
1. Datu<br />
Datu adalah Gelara yang di berikan kepada bangsawan bugis yang memegang pemerintahan daerah, yang sekarang             setingkat dengan (Bupati).<br />
2. Arung<br />
Arung adalah Gelar yang diberikan kepada bangsawan bugis yang memegang pemerintahan wilayah yang sekarang           setingkat dengan (Camat).<br />
3. Andi<br />
Andi adala gelar yang diberikan kepada bangsawan bugis yang biasanya anak dari perkawinan antara keturunan                 arung dengan arung.<br />
4. Puang<br />
Puang adalah Gelar yang diberikan kepada anak dari hasil perkawinan antara arung atau andi yang mempunyai istri          masyarakat biasa, begitupun sebaliknya.<br />
5. Iye<br />
Iye adalah gelar yang diberikan kepada masyarakat biasa yang masih memiliki silsilah yang dekat dengan kerabat              bangsawan.<br />
6. Uwa<br />
Uwa adala kasta ter rendah dalam masyarakat bugis yaitu gelar yang diberikan kepada masyarakat biasa.</p>
<p>ADAT ISTIADAT DAN PRILAKU HIDUP BERMASYARAKAT<br />
System norma dan aturan-aturan adatnya yang keramat dan sacral yang keselaruhnya disebut panngadderreng (panngadakkang).</p>
<p>Sistem adat keramat dari orang bugis terdiri atas 5 unsur pokok, yaitu:<br />
1. Ade’( ada’)<br />
Ade adalah bagian dari panggaderreng yang secara khusus terdiri dari:<br />
a. Ade’ akkalabinengeng atau norma mengenai hal-hal ihwal perkawinan serata hubungan kekerabatan dan berwujud            sebagai kaidah-kaidah perkawinan, kaidah-kaidah keturunan, aturan-aturan mengenai hak dan kewajiban warga                 rumah tangga, etika dalam hal berumah tangga dan sopan santun pergaulan antar kaum kerabat<br />
b. Ade’ tana atau norma mengenai hal ihwal bernegara dan memerintah Negara dan berwujud sebagai hukum Negara,           hukum anatar Negara, serta etika dan pembinaan insan politik.<br />
Pengawasan dan pembinaan ade’ dalam masyarakat orang Bugis biasanya dilaksanakan oleh beberapa pejabat                     adat seperti : pakka tenniade’, puang ade’, pampawa ade’, dan parewa ade’.<br />
2. Bicara<br />
Bicara adalah unsur yang mengenai semua aktivitas dan konsep-konsep yang bersangkut paut dengan keadilan, maka      kurang lebih sama dengan hukum acara,menentukan prosedurenya serta hak-hak dan kewajiban seorang yang                    mengajukan kasusnya di muka pengadilan atu mengajukan gugatan.<br />
3. Rapang<br />
Contoh, perumpamaan, kias, atau analogi. Rapang menjaga kepastian dan konstinuitet dari suatau keputusan hukum        taktertulis dalam masa yang lampau sampai sekarang, dengan membuat analogi dari kasus dari masa lampau dengan        yang sedang di garap sekarang.<br />
4. Wari’<br />
Melakukan klasifikasi dari segala benda, peritiwa, dan aktivitetnya dalam kehidupan masyarakat menurut                             kategorinya. Misalnya untuk memelihara tata susunan dan tata penempatan hal-hal dan dan benda-benda dalam               kehidupan masyarakat; untuk emelihara jalur dan garis keturunan yang mewujudkan pelapisan social; untuk                       memlihara hubungan kekerabatan antara raja suatu Negara dengan raja dari Negara lain, sehingga dapat ditentukan         mana yang muda dan mana yang tua dalam tata uacara kebesaran.<br />
6. Sara’<br />
Pranata dan hokum Islam dan yang melengkapkan keempat unsurnya menjadi lima.<br />
Dalam kasusastraan Pasengyang memuat amanat-amanat dari nenek moyang, ada contoh-contoh dari ungkapan-              ungkapan yang diberikan kepada konsep siri’ seperti:<br />
1. siri’ emmi rionrowang ri-lino artinya: hanya untuk siri’ sajalah kita tinggal di dunia. Arti siri sebagai hal yang                        memberi identitet social da martabat kepada seorang Bugis<br />
2. mate ri siri’na artinya mati dalam siri’ atau mati untuk menegakkan martabat dalam diri,yang dianggap suatu hal                yang terpuji dan terhormat.<br />
3. mate siri’ artinya mati siri’ atau orang yang sudah hilang martabat dirinya dalah seperti bangkai hidup. Kemudia akan      melakukan jallo atau amuk sampai ia mati sendiri.<br />
Agama dari penduduk Sulawesi Selatan kira-kira 90% adalah Islam, sedang 10 % memeluk agama Kristen Protestan          atau Katolik. Umat Kristen atau Katolik biasanya pendatang dari Maluku, Minahasa, dan lain-lain</p>
<p>KESENIAN<br />
Alat musik</p>
<p>Kacapi (Kecapi)</p>
<div class="wp-caption alignleft" style="width: 110px"><a href="http://arulghost.files.wordpress.com/2009/08/kacapi-bugiss.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-218" title="Kacapi Bugiss" src="http://arulghost.files.wordpress.com/2009/08/kacapi-bugiss.jpg?w=100&#038;h=240" alt="" width="100" height="240" /></a><p class="wp-caption-text">Kacapi</p></div>
<p>Salah satu alat musik petik tradisional Sulawesi Selatan khususnya suku Bugis, Bugis Makassar dan Bugis Mandar. Menurut sejarahnya kecapi ditemukan atau diciptakan oleh seorang pelaut, sehingga bentuknya menyerupai perahu yang memiliki dua dawai, diambil karena penemuannya dari tali layar perahu. Biasanya ditampilkan pada acara penjemputan para tamu, perkawinan, hajatan, bahkan hiburan pada hari ulang tahun.</p>
<p>Sinrili</p>
<div class="wp-caption alignleft" style="width: 126px"><img src="http://tbn1.google.com/images?q=tbn:dR3t1_7ierYdnM:http://indonesian.cri.cn/chinaabc/chapter23/images/gaohu.jpg" alt="sinrili" width="116" height="126" /><p class="wp-caption-text">sinrili</p></div>
<p>alat musik yang mernyerupai biaola cuman kalau biola di mainkan dengan membaringkan di pundak sedang singrili di mainkan dalam keedaan pemain duduk dan alat diletakkan tegak di depan pemainnya.</p>
<p>Gendang</p>
<div class="wp-caption alignleft" style="width: 269px"><a href="http://arulghost.files.wordpress.com/2009/08/pa-gendang.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-221" title="Pa gendang" src="http://arulghost.files.wordpress.com/2009/08/pa-gendang.jpg?w=259&#038;h=194" alt="" width="259" height="194" /></a><p class="wp-caption-text">Pa&#039; Gendang</p></div>
<p>Musik perkusi yang mempunyai dua bentuk dasar yakni bulat panjang dan bundar seperti rebana.</p>
<p>Suling</p>
<div class="wp-caption alignleft" style="width: 126px"><a href="www.arulghost.wordpress.com"><img src="http://tbn0.google.com/images?q=tbn%3A8rMIRubtv1uiQM%3Ahttp%3A%2F%2Frainning.files.wordpress.com%2F2009%2F06%2F821785_bambo-flute.jpg&#038;w=116&#038;h=116" alt="seruling" width="116" height="116" /></a><p class="wp-caption-text">seruling</p></div>
<p>Suling bambu/buluh, terdiri dari tiga jenis, yaitu:<br />
• Suling panjang (suling lampe), memiliki 5 lubang nada. Suling jenis ini telah punah.<br />
• Suling calabai (Suling ponco),sering dipadukan dengan piola (biola) kecapi dan dimainkan bersama penyanyi<br />
• Suling dupa samping (musik bambu), musik bambu masih terplihara di daerah Kecamatan Lembang. Biasanya digunakan pada acara karnaval (baris-berbaris) atau acara penjemputan tamu.</p>
<p>Seni Tari</p>
<p>• Tari pelangi; tarian pabbakkanna lajina atau biasa disebut tari meminta hujan.<br />
• Tari Paduppa Bosara; tarian yang mengambarkan bahwa orang Bugis jika kedatangan tamu senantiasa menghidangkan    bosara, sebagai tanda kesyukuran dan kehormatan.</p>
<p><a href="http://arulghost.files.wordpress.com/2009/08/tari-bosara.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-208" title="Tari Bosara" src="http://arulghost.files.wordpress.com/2009/08/tari-bosara.jpg?w=259&#038;h=194" alt="" width="259" height="194" /></a></p>
<p>• Tari Pattennung; tarian adat yang menggambarkan perempuan-perempuan yang sedang menenun benang menjadi             kain. Melambangkan kesabaran dan ketekunan perempuan-perempuan Bugis.</p>
<p>• Tari Pajoge’ dan Tari Anak Masari; tarian ini dilakukan oleh calabai (waria), namun jenis tarian ini sulit sekali                        ditemukan bahkan dikategorikan telah punah.<br />
• Jenis tarian yang lain adalah tari Pangayo, tari Passassa’, tari Pa’galung, dan tari Pabbatte (biasanya di gelar padasaat      Pesta Panen).</p>
<p>Makanan Khas Sulawesi Selatan<br />
1. COTO MAKASSAR<br />
2. KONRO<br />
3. SOP SAUDARA<br />
4. PISANG EPE’<br />
5. PISANG IJO<br />
6. PALU BASSAH<br />
7. PALA BUTUNG<br />
8. NASU PALEKKO (Bebek)</p>
<p>Permainan<br />
Beberapa permainan khas yang sering dijumpai di masyarakat Bugis ( Pinrang): Mallogo, Mappadendang, Ma’gasing, Mattoajang (ayunan), getong-getong, Marraga, Mappasajang (layang-layang), Malonggak</p>
<p><strong>Senjata Suku Bugis</strong><strong><br />
</strong><strong> </strong></p>
<div class="wp-caption alignleft" style="width: 181px"><a href="http://arulghost.files.wordpress.com/2009/08/kawali.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-219" title="kawali" src="http://arulghost.files.wordpress.com/2009/08/kawali.jpg?w=171&#038;h=256" alt="" width="171" height="256" /></a><p class="wp-caption-text">KAWALI  senjata khas suku bugis</p></div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/arulghost.wordpress.com/158/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/arulghost.wordpress.com/158/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/arulghost.wordpress.com/158/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/arulghost.wordpress.com/158/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/arulghost.wordpress.com/158/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/arulghost.wordpress.com/158/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/arulghost.wordpress.com/158/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/arulghost.wordpress.com/158/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/arulghost.wordpress.com/158/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/arulghost.wordpress.com/158/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/arulghost.wordpress.com/158/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/arulghost.wordpress.com/158/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/arulghost.wordpress.com/158/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/arulghost.wordpress.com/158/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=arulghost.wordpress.com&amp;blog=8471244&amp;post=158&amp;subd=arulghost&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://arulghost.wordpress.com/2009/08/04/budaya-bugis/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>10</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/cfdd98dadb37b02924fefe7184b6b757?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">arulghost</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://arulghost.files.wordpress.com/2009/08/rumah-suku-bugis.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Rumah suku bugis</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://arulghost.files.wordpress.com/2009/08/huruf-lontara.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Huruf Lontara</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://arulghost.files.wordpress.com/2009/08/pasangan-pengantin-bugis2-e1315904522188.jpg?w=268" medium="image">
			<media:title type="html">pasangan pengantin bugis2</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://arulghost.files.wordpress.com/2009/08/mappenre-botting-e1315903965527.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Mappenre Botting</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://arulghost.files.wordpress.com/2009/08/kacapi-bugiss.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Kacapi Bugiss</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://tbn1.google.com/images?q=tbn:dR3t1_7ierYdnM:http://indonesian.cri.cn/chinaabc/chapter23/images/gaohu.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">sinrili</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://arulghost.files.wordpress.com/2009/08/pa-gendang.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Pa gendang</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://tbn0.google.com/images?q=tbn:8rMIRubtv1uiQM:http://rainning.files.wordpress.com/2009/06/821785_bambo-flute.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">seruling</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://arulghost.files.wordpress.com/2009/08/tari-bosara.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Tari Bosara</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://arulghost.files.wordpress.com/2009/08/kawali.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">kawali</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Cerita Rakyat Bugis</title>
		<link>http://arulghost.wordpress.com/2009/07/16/cerita-rakyat-bugis/</link>
		<comments>http://arulghost.wordpress.com/2009/07/16/cerita-rakyat-bugis/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 16 Jul 2009 09:33:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>arulbugines</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Rakyat]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah daerah]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah pahlawan]]></category>
		<category><![CDATA[cerita]]></category>
		<category><![CDATA[cerita bugis]]></category>
		<category><![CDATA[cerita kuno]]></category>
		<category><![CDATA[dongeng]]></category>
		<category><![CDATA[dongeng kuno]]></category>
		<category><![CDATA[mitos]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://arulghost.wordpress.com/?p=123</guid>
		<description><![CDATA[<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=arulghost.wordpress.com&amp;blog=8471244&amp;post=123&amp;subd=arulghost&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="wp-caption alignleft" style="width: 110px"><a href="http://ceritarakyatnusantara.com/id/folklore.php?ac=38&amp;l=putri-tandampalik"><img alt="Pitri Tadampalik" src="http://ceritarakyatnusantara.com/data/id/folklore/tn/p497fc06412008_Putri-Tandampalik.jpg" width="100" height="75" /></a><p class="wp-caption-text">Pitri Tadampalik</p></div>
<div class="wp-caption alignleft" style="width: 110px"><a href="http://ceritarakyatnusantara.com/id/folklore.php?ac=118&amp;l=lamadukelleng"><img alt="Lamadukelleng" src="http://ceritarakyatnusantara.com/data/id/folklorethumb/img499ce25f4dc48_Lamadukelleng.jpg" width="100" height="75" /></a><p class="wp-caption-text">Lamadukelleng</p></div>
<div class="wp-caption alignleft" style="width: 110px"><a href="WWW.arulghost.wordpress.com"><img alt="Sawerigading" src="http://ceritarakyatnusantara.com/data/id/folklorethumb/img49e00933b1a66_sawerigading.jpg" width="100" height="75" /></a><p class="wp-caption-text">Sawerigading</p></div>
<div class="wp-caption alignleft" style="width: 110px"><a href="http://ceritarakyatnusantara.com/id/folklore.php?ac=158&amp;l=la-up"><img alt="La Upe" src="http://ceritarakyatnusantara.com/data/id/folklorethumb/img4a2481f052ff6_La-Upe-New-tn.jpg" width="100" height="75" /></a><p class="wp-caption-text">La Upe</p></div>
<div class="wp-caption alignleft" style="width: 110px"><a href="http://ceritarakyatnusantara.com/id/folklore.php?ac=168&amp;l=i-laurang"><img alt="Ilaureng" src="http://ceritarakyatnusantara.com/data/id/folklore/tn/p487474d9d009e.jpg" width="100" height="75" /></a><p class="wp-caption-text">Ilaureng</p></div>
<div class="wp-caption alignleft" style="width: 110px"><a href="http://ceritarakyatnusantara.com/id/folklore.php?ac=170&amp;l=si-penakluk-rajawali"><img alt="si Penakluk Rajawali" src="http://ceritarakyatnusantara.com/data/id/folklore/tn/p48853d7a681e5.jpg" width="100" height="75" /></a><p class="wp-caption-text">si Penakluk Rajawali</p></div>
<div class="wp-caption alignleft" style="width: 110px"><a href="http://ceritarakyatnusantara.com/id/folklore.php?ac=190&amp;l=ambo-upe-dan-burung-beo"><img alt="Ambo Upe" src="http://ceritarakyatnusantara.com/data/id/folklore/tn/p491be6370e349.jpg" width="100" height="75" /></a><p class="wp-caption-text">Ambo Upe</p></div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/arulghost.wordpress.com/123/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/arulghost.wordpress.com/123/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/arulghost.wordpress.com/123/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/arulghost.wordpress.com/123/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/arulghost.wordpress.com/123/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/arulghost.wordpress.com/123/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/arulghost.wordpress.com/123/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/arulghost.wordpress.com/123/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/arulghost.wordpress.com/123/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/arulghost.wordpress.com/123/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/arulghost.wordpress.com/123/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/arulghost.wordpress.com/123/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/arulghost.wordpress.com/123/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/arulghost.wordpress.com/123/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=arulghost.wordpress.com&amp;blog=8471244&amp;post=123&amp;subd=arulghost&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://arulghost.wordpress.com/2009/07/16/cerita-rakyat-bugis/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/cfdd98dadb37b02924fefe7184b6b757?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">arulghost</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ceritarakyatnusantara.com/data/id/folklore/tn/p497fc06412008_Putri-Tandampalik.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Pitri Tadampalik</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ceritarakyatnusantara.com/data/id/folklorethumb/img499ce25f4dc48_Lamadukelleng.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Lamadukelleng</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ceritarakyatnusantara.com/data/id/folklorethumb/img49e00933b1a66_sawerigading.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Sawerigading</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ceritarakyatnusantara.com/data/id/folklorethumb/img4a2481f052ff6_La-Upe-New-tn.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">La Upe</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ceritarakyatnusantara.com/data/id/folklore/tn/p487474d9d009e.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Ilaureng</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ceritarakyatnusantara.com/data/id/folklore/tn/p48853d7a681e5.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">si Penakluk Rajawali</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ceritarakyatnusantara.com/data/id/folklore/tn/p491be6370e349.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Ambo Upe</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sawerigading/lagaligo</title>
		<link>http://arulghost.wordpress.com/2009/07/16/sawerigadinglagaligo/</link>
		<comments>http://arulghost.wordpress.com/2009/07/16/sawerigadinglagaligo/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 16 Jul 2009 08:03:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>arulbugines</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Rakyat]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah daerah]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah pahlawan]]></category>
		<category><![CDATA[cerita lagaligo]]></category>
		<category><![CDATA[cerita raktat]]></category>
		<category><![CDATA[lagaligo]]></category>
		<category><![CDATA[sawerigading]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah sawerigading]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://arulghost.wordpress.com/?p=119</guid>
		<description><![CDATA[Sawerigading, adalah nama seorang putera raja Luwu, dari Kerajaan Luwu Purba. Nama ini dikenal melalui cerita dan kisah dari sastra La Galigo. Nama Sawerigading ini dikenal sebagai seorang laki-laki perkasa, yang kekuatannya luar biasa. Sawerigading melalui epik La Galigo dikisahkan dua bersaudara kembar yakni Sawerigading dan We Tenriabeng. Kedua bersaudara kembar ini adalah anak dari [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=arulghost.wordpress.com&amp;blog=8471244&amp;post=119&amp;subd=arulghost&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Sawerigading</strong>, <a href="http://arulghost.wordpress.com/2009/07/16/sawerigadinglagaligo/#more-119"><img alt="" src="http://thm-a03.yimg.com/image/f07ad89e7917a4a0" class="alignright" width="145" height="109" /></a><br />
adalah nama seorang putera raja Luwu, dari Kerajaan Luwu Purba. Nama ini dikenal melalui cerita dan kisah dari sastra La Galigo. Nama Sawerigading ini dikenal sebagai seorang laki-laki perkasa, yang kekuatannya luar biasa. Sawerigading melalui epik La Galigo dikisahkan dua bersaudara kembar yakni Sawerigading dan We Tenriabeng. Kedua bersaudara kembar ini adalah anak dari raja Luwu Batara Lattu. Sawerigading dan We Teriabeng masa kecilnya dibesar diberbeda tempat, setelah dewasa baru mereka bertemu dan jatuh cinta pada adik kandungnya, tetapi hukum tidak membolehkan menyunting saudaranya. Gusar dan kesedihan hati Sawerigading, menyebabkan ia memutuskan meniggalkan tanah Luwu dan bersumpah tidak akan kembali selama hidupnya. Ia pergi berlayar, mengembara berkeliling dikepulauan Bahari sampai ke Negeri Tingkok.</p>
<p><span id="more-119"></span><br />
<strong>Isi hikayat La Galigo</strong></p>
<p>Epik ini dimulai dengan penciptaan dunia. Ketika dunia ini kosong (merujuk kepada Sulawesi Selatan), Raja Di Langit, La Patiganna, mengadakan suatu musyawarah keluarga dari beberapa kerajaan termasuk Senrijawa dan Peretiwi dari alam gaib dan membuat keputusan untuk melantik anak lelakinya yang tertua, La Toge&#8217; langi&#8217; menjadi Raja Alekawa (Bumi) dan memakai gelar Batara Guru. La Toge&#8217; langi&#8217; kemudian menikah dengan sepupunya We Nyili&#8217;timo&#8217;, anak dari Guru ri Selleng, Raja alam gaib. Tetapi sebelum Batara Guru dinobatkan sebagai raja di bumi, ia harus melalui suatu masa ujian selama 40 hari, 40 malam. Tidak lama sesudah itu ia turun ke bumi, yaitu di Ussu&#8217;, sebuah daerah di Luwu&#8217;, sekarang wilaya Luwu Timur dan terletak di Teluk Bone.</p>
<p>Batara Guru kemudian digantikan oleh anaknya, La Tiuleng yang memakai gelar Batara Lattu&#8217;. Ia kemudian mendapatkan dua orang anak kembar yaitu Lawe atau La Ma&#8217;dukelleng atau Sawerigading (Putera Ware&#8217;) dan seorang anak perempuan bernama We Tenriyabeng. Kedua anak kembar itu tidak dibesarkan bersama-sama. Sawerigading ingin menikahi We Tenriyabeng karena ia tidak tahu bahwa ia masih mempunyai hubungan darah dengannya. Ketika ia mengetahui hal itu, ia pun meninggalkan Luwu&#8217; dan bersumpah tidak akan kembali lagi. Dalam perjalannya ke Kerajaan Tiongkok, ia mengalahkan beberapa pahlawan termasuklah pemerintah Jawa Wolio yaitu Setia Bonga. Sesampainya di Tiongkok, ia menikah dengan putri Tiongkok, yaitu We Cudai.</p>
<p>Sawerigading digambarkan sebagai seorang kapten kapal yang perkasa dan tempat-tempat yang dikunjunginya antara lain adalah Taranate (Ternate di Maluku), Gima (diduga Bima atau Sumbawa), Jawa Rilau&#8217; dan Jawa Ritengnga, Jawa Timur dan Tengah), Sunra Rilau&#8217; dan Sunra Riaja (kemungkinan Sunda Timur dan Sunda Barat) dan Melaka. Ia juga dikisahkan melawat surga dan alam gaib. Pengikut-pengikut Sawerigading terdiri dari saudara-maranya dari pelbagai rantau dan rombongannya selalu didahului oleh kehadiran tamu-tamu yang aneh-aneh seperti orang bunian, orang berkulit hitam dan orang yang dadanya berbulu.</p>
<p>Sawerigading adalah ayah I La Galigo (yang bergelar Datunna Kelling). I La Galigo, juga seperti ayahnya, adalah seorang kapten kapal, seorang perantau, pahlawan mahir dan perwira yang tiada bandingnya. Ia mempunyai empat orang istri yang berasal dari pelbagai negeri. Seperti ayahnya pula, I La Galigo tidak pernah menjadi raja.</p>
<p>Anak lelaki I La Galigo yaitu La Tenritatta&#8217; adalah yang terakhir di dalam epik itu yang dinobatkan di Luwu&#8217;.</p>
<p>Isi epik ini merujuk ke masa ketika orang Bugis bermukim di pesisir pantai Sulawesi. Hal ini dibuktikan dengan bentuk setiap kerajaan ketika itu. Pemukiman awal ketika itu berpusat di muara sungai dimana kapal-kapal besar boleh melabuh dan pusat pemerintah terletak berdekatan dengan muara. Pusat pemerintahannya terdiri dari istana dan rumah-rumah para bangsawan. Berdekatan dengan istana terdapat Rumah Dewan (Baruga) yang berfungsi sebagai tempat bermusyawarah dan tempat menyambut pedagang-pedagang asing. Kehadiran pedagang-pedagang asing sangat disambut di kerajaan Bugis ketika itu. Setelah membayar cukai, barulah pedagang-pedagang asing itu boleh berniaga. Pemerintah selalu berhak berdagang dengan mereka menggunakan sistem barter, diikuti golongan bangsawan dan kemudian rakyat jelata. Hubungan antara kerajaan adalah melalui jalan laut dan golongan muda bangsawan selalu dianjurkan untuk merantau sejauh yang mungkin sebelum mereka diberikan tanggung jawab. Sawerigading digambarkan sebagai model mereka.</p>
<p>[sunting] La Galigo di Sulawesi Tengah</p>
<p>Nama Sawerigading I La Galigo cukup terkenal di Sulawesi Tengah. Hal ini membuktikan bahwa kawsan ini mungkin pernah diperintah oleh kerajaan purba Bugis yaitu Luwu&#8217;.</p>
<p>Sawerigading dan anaknya I La Galigo bersama dengan anjing peliharaanya, Buri, pernah merantau mengunjungi lembah Palu yang terletak di pantai barat Sulawesi. Buri, yang digambarkan sebagai seekor binatang yang garang, dikatakan berhasil membuat mundur laut ketika I La Galigo bertengkar dengan Nili Nayo, seorang Ratu Sigi. Akhirnya, lautan berdekatan dengan Loli di Teluk Palu menjadi sebuah danau iaitu Tasi&#8217; Buri&#8217; (Tasik Buri).</p>
<p>Berdekatan dengan Donggala pula, terdapat suatu kisah mengenai Sawerigading. Bunga Manila, seorang ratu Makubakulu mengajak Sawerigading bertarung ayam. Akan tetapi, ayam Sawerigading kalah dan ini menyebabkan tercetusnya peperangan. Bunga Manila kemudian meminta pertolongan kakaknya yang berada di Luwu&#8217;. Sesampainya tentara Luwu&#8217;, kakak Bunga Manila mengumumkan bahwa Bunga Manila dan Sawerigading adalah bersaudara dan hal ini mengakhiri peperangan antara mereka berdua. Betapapun juga, Bunga Manila masih menaruh dendam dan karena itu ia menyuruh anjingnya, Buri (anjing hitam), untuk mengikuti Sawerigading. Anjing itu menyalak tanpa henti dan ini menyebabkan semua tempat mereka kunjungi menjadi daratan.</p>
<p>Kisah lain yang terdapat di Donggala ialah tentang I La Galigo yang terlibat dalam adu ayam dengan orang Tawali. Di Biromaru, ia mengadu ayam dengan Ngginaye atau Nili Nayo. Ayam Nili Nayo dinamakan Calabae sementara lawannya adalah Baka Cimpolo. Ayam I La Galigo kalah dalam pertarungan itu. Kemudian I La Galigo meminta pertolongan dari ayahnya, Sawerigading. Sesampainya Sawerigading, ia mendapati bahwa Nili Nayo adalah bersaudara dengan I La Galigo, karena Raja Sigi dan Ganti adalah sekeluarga.</p>
<p>Di Sakidi Selatan pula, watak Sawerigading dan I La Galigo adalah seorang pencetus tamadun dan inovasi.</p>
<p>[sunting] La Galigo di Sulawesi Tenggara</p>
<p>Ratu Wolio pertama di Buntung di gelar Wakaka, dimana mengikut lagenda muncul dari buluh (bambu gading). Terdapat juga kisah lain yang menceritakan bahwa Ratu Wolio adalah bersaudara dengan Sawerigading. Satu lagi kisah yang berbeda yaitu Sawerigading sering ke Wolio melawat Wakaka. Ia tiba dengan kapalnya yang digelar Halmahera dan berlabuh di Teluk Malaoge di Lasalimu.</p>
<p>Di Pulau Muna yang berdekatan, pemerintahnya mengaku bahwa ia adalah adalah keturunan Sawerigading atau kembarnya We Tenriyabeng. Pemerintah pertama Muna yaitu Belamo Netombule juga dikenali sebagai Zulzaman adalah keturunan Sawerigading. Terdapat juga kisah lain yang mengatakan bahwa pemerintah pertama berasal dari Jawa, kemungkinan dari Majapahit. Permaisurinya bernama Tendiabe. Nama ini mirip dengan nama We Tenyirabeng, nama yang di dalam kisah La Galigo, yang menikah dengan Remmangrilangi&#8217;, artinya, &#8216;Yang tinggal di surga&#8217;. Ada kemungkinan Tendiabe adalah keturunan We Tenyirabeng. Pemerintah kedua, entah anak kepada Belamo Netombule atau Tendiabe atau kedua-duanya, bernama La Patola Kagua Bangkeno Fotu.</p>
<p>Sementara nama-nama bagi pemerintah awal di Sulawesi Tenggara adalah mirip dengan nama-nama di Tompoktikka, seperti yang tercatat di dalam La Galigo. Contohnya Baubesi (La Galigo: Urempessi). Antara lainnya ialah Satia Bonga, pemerintah Wolio(La Galigo: Setia Bonga).</p>
<p>[sunting] La Galigo di Gorontalo</p>
<p>Legenda Sawerigading dan kembarnya, Rawe, adalah berkait rapat dengan pembangunan beberapa negeri di kawasan ini. Mengikut legenda dari kawasan ini, Sarigade, putera Raja Luwu&#8217; dari negeri Bugis melawat kembarnya yang telah hidup berasingan dengan orangtuanya. Sarigade datang dengan beberapa armada dan melabuh di Tanjung Bayolamilate yang terletak di negeri Padengo. Sarigade mendapat tahu bahwa kembarnya telah menikah dengan raja negeri itu yaitu Hulontalangi. Karena itu bersama-sama dengan kakak iparnya, ia setuju untuk menyerang beberapa negeri sekitar Teluk Tomini dan membagi-bagikan kawasan-kawasan itu. Serigade memimpin pasukan berkeris sementara Hulontalangi memimpin pasukan yang menggunakan kelewang. Setelah itu, Sarigade berangkat ke Tiongkok untuk mencari seorang gadis yang cantik dikatakan mirip dengan saudara kembarnya. Setelah berjumpa, ia langsung menikahinya.</p>
<p>Terdapat juga kisah lain yang menceritakan tentang pertemuan Sawerigading dengan Rawe. Suatu hari, Raja Matoladula melihat seorang gadis asing di rumah Wadibuhu, pemerintah Padengo. Matoladula kemudian menikahi gadis itu dan akhirnya menyadari bahwa gadis itu adalah Rawe dari kerajaan Bugis Luwu&#8217;. Rawe kemudiannya menggelar Matoladula dengan gelar Lasandenpapang.</p>
<p>[sunting] La Galigo di Malaysia dan Riau</p>
<p>Kisah Sawerigading cukup terkenal di kalangan keturunan Bugis dan Makasar di Malaysia. Kisah ini dibawa sendiri oleh orang-orang Bugis yang bermigrasi ke Malaysia. Terdapat juga unusur Melayu dan Arab diserap sama.</p>
<p>Pada abad ke-15, Melaka di bawah pemerintahan Sultan Mansur Syah diserang oleh &#8216;Keraing Semerluki&#8217; dari Makassar. Semerluki yang disebut ini berkemungkinan adalah Karaeng Tunilabu ri Suriwa, putera pertama kerajaan Tallo&#8217;, dimana nama sebenarnya ialah Sumange&#8217;rukka&#8217; dan beliau berniat untuk menyerang Melaka, Banda dan Manggarai.</p>
<p>Perhubungan yang jelas muncul selepas abad ke-15. Pada tahun 1667, Belanda memaksa pemerintah Goa untuk mengaku kalah dengan menandatangani Perjanjian Bungaya. Dalam perjuangan ini,Goa dibantu oleh Arung Matoa dari Wajo&#8217;. Pada tahun berikutnya, kubu Tosora dimusnahkan oleh Belanda dan sekutunya La Tenritta&#8217; Arung Palakka dari Bone. Hal ini menyebabkan banyak orang Bugis dan Makassar bermigrasi ke tempat lain. Contohnya, serombongan orang Bugis tiba di Selangor di bawah pimpinan Daeng Lakani. Pada tahun 1681, sebanyak 150 orang Bugis menetap di Kedah. Manakala sekitar abad ke-18, Daeng Matokko&#8217; dari Peneki, sebuah daerah di Wajo&#8217;, menetap di Johor. Sekitar 1714 dan 1716, adiknya, La Ma&#8217;dukelleng, juga ke Johor. La Ma&#8217;dukelleng juga diberi gelar sebagai pemimpin bajak laut oleh Belanda.</p>
<p>Keturunan Opu Tenriburong memainkan peranan penting dimana mereka bermukim di Kuala Selangor dan Klang keturunan ini juga turut dinobatkan sebagai Sultan Selangor dan Sultan Johor. Malahan, kelima-lima anak Opu Tenriburong memainkan peranan yang penting dalam sejarah di kawasan ini. Daeng Merewah menjadi Yang Dipertuan Riau, Daeng Parani menikah dengan puteri-puteri Johor, Kedah dan Selangor dan juga ayanhanda kepada Opu Daeng Kamboja (Yang Dipertuan Riau ketiga), Opu Daeng Menambun (menjadi Sultan Mempawah dan Matan), Opu Daeng Cella&#8217; (menikah dengan Sultan Sambas dan keturunannya menjadi raja di sana).</p>
<p>Pada abad ke-19, sebuah teks Melayu yaitu Tuhfat al-Nafis mengandung cerita-cerita seperti di dalam La Galigo. Walaubagaimanapun, terdapat perubahan-perubahan dalam Tuhfat al-Nafis seperti permulaan cerita adalah berasal dari Puteri Balkis, Permaisuri Sheba dan tiada cerita mengenai turunnya keturunan dari langit seperti yang terdapat di dalm La Galigo. Anak perempuannya, Sitti Mallangke&#8217;, menjadi Ratu Selangi, sempena nama purba bagi pulau Sulawesi dan menikah dengan Datu Luwu&#8217;. Kisah ini tidak terdapat dalam La Galigo. Namun demikian, anaknya, yaitu Datu Palinge&#8217; kemungkinan adalah orang yang sama dengan tokoh di dalam La Galigo.</p>
<p>Sumber, http://id.wikipedia.org/wiki/La_Galigo</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/arulghost.wordpress.com/119/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/arulghost.wordpress.com/119/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/arulghost.wordpress.com/119/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/arulghost.wordpress.com/119/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/arulghost.wordpress.com/119/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/arulghost.wordpress.com/119/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/arulghost.wordpress.com/119/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/arulghost.wordpress.com/119/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/arulghost.wordpress.com/119/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/arulghost.wordpress.com/119/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/arulghost.wordpress.com/119/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/arulghost.wordpress.com/119/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/arulghost.wordpress.com/119/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/arulghost.wordpress.com/119/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=arulghost.wordpress.com&amp;blog=8471244&amp;post=119&amp;subd=arulghost&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://arulghost.wordpress.com/2009/07/16/sawerigadinglagaligo/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/cfdd98dadb37b02924fefe7184b6b757?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">arulghost</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://thm-a03.yimg.com/image/f07ad89e7917a4a0" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>puisi cinta buat cintaku</title>
		<link>http://arulghost.wordpress.com/2009/07/16/puisi-cinta-buat-cintaku/</link>
		<comments>http://arulghost.wordpress.com/2009/07/16/puisi-cinta-buat-cintaku/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 16 Jul 2009 06:03:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>arulbugines</dc:creator>
				<category><![CDATA[Puisi]]></category>
		<category><![CDATA[puisi cinta]]></category>
		<category><![CDATA[puisi romantis]]></category>
		<category><![CDATA[puisi untuk kekasih]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://arulghost.wordpress.com/?p=102</guid>
		<description><![CDATA[Arti Cinta By, A.ghost Cinta&#8230; Laksana air dalam telaga biru Yang menghilangkan dahaga hati Dan menyejukkan hati yang gerah dari hembusan angin sahara Cinta… kesetiaan abadi jadi harapan laksana pantai menanti ombak walau berguling kesamudra lepas tapi tak lupa untuk kembali Cinta… seperti angin yang bertiup cahaya kasihku akan terus hidup menerangi hati yang sedang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=arulghost.wordpress.com&amp;blog=8471244&amp;post=102&amp;subd=arulghost&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>        <strong>Arti Cinta</strong><br />
By, A.ghost</p>
<div class="wp-caption alignright" style="width: 107px"><a href="http://arulghost.wordpress.com/2009/07/16/puisi-cinta-buat-cintaku/#more-102"><img alt="A.ghost" src="http://photos-g.ak.fbcdn.net/photos-ak-snc1/v3792/187/57/1466956422/s1466956422_30109902_3894497.jpg" width="97" height="130" /></a><p class="wp-caption-text">A.ghost</p></div>
<p>Cinta&#8230;<br />
Laksana air dalam telaga biru<br />
Yang menghilangkan dahaga hati<br />
Dan menyejukkan hati yang gerah<br />
dari hembusan angin sahara</p>
<p>Cinta…<br />
kesetiaan abadi jadi harapan<br />
laksana pantai menanti ombak<br />
walau berguling kesamudra lepas<br />
tapi tak lupa untuk kembali<br />
<span id="more-102"></span><br />
Cinta…<br />
seperti angin yang bertiup<br />
cahaya kasihku akan terus hidup<br />
menerangi hati yang sedang redup<br />
dalam desiran angin sayup</p>
<p>Cinta…<br />
karang kesabaran yang tumbuh di lubuk<br />
meleburkan bimbang sang punguk<br />
saat hati taklagi sejuk<br />
dari kerinduan akan dipeluk</p>
<p>Cinta&#8230;<br />
butiran hujan jatu bak permata<br />
menghias indah dalam asa<br />
terdengar indah aluna suara<br />
pengantar sampai menutup mata</p>
<p>Cinta…<br />
senandung sunyi dalam relung hati<br />
terucap janji sang penjaga hati<br />
dari ingsan yang sehati<br />
yang telah bertahta dalam hati</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/arulghost.wordpress.com/102/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/arulghost.wordpress.com/102/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/arulghost.wordpress.com/102/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/arulghost.wordpress.com/102/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/arulghost.wordpress.com/102/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/arulghost.wordpress.com/102/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/arulghost.wordpress.com/102/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/arulghost.wordpress.com/102/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/arulghost.wordpress.com/102/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/arulghost.wordpress.com/102/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/arulghost.wordpress.com/102/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/arulghost.wordpress.com/102/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/arulghost.wordpress.com/102/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/arulghost.wordpress.com/102/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=arulghost.wordpress.com&amp;blog=8471244&amp;post=102&amp;subd=arulghost&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://arulghost.wordpress.com/2009/07/16/puisi-cinta-buat-cintaku/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/cfdd98dadb37b02924fefe7184b6b757?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">arulghost</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://photos-g.ak.fbcdn.net/photos-ak-snc1/v3792/187/57/1466956422/s1466956422_30109902_3894497.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">A.ghost</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Puisi Cinta Sangpujangga</title>
		<link>http://arulghost.wordpress.com/2009/07/15/93/</link>
		<comments>http://arulghost.wordpress.com/2009/07/15/93/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 15 Jul 2009 09:26:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>arulbugines</dc:creator>
				<category><![CDATA[arulghost]]></category>
		<category><![CDATA[Puisi]]></category>
		<category><![CDATA[puisi cinta]]></category>
		<category><![CDATA[puisi romantis]]></category>
		<category><![CDATA[puisi untuk kekasih]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://arulghost.wordpress.com/?p=93</guid>
		<description><![CDATA[Rindu Menjerit by, A.ghost Hingar bingar menjelang malam Gairah lembut wajah anggunmu Tak bisa kutahan rasa rindu Disini aku menyendiri merangkuh rautmu Dunia Kelam menjelang malam Terpanah, saat Adzan mengisi relung Disana, separuh hatiku tertinggal jarak dan waktu masih menjadi musuhku Terhalang hamparan laut yang dingin menyelimuti bongkahan hatiku yang mulai beku oleh rindu yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=arulghost.wordpress.com&amp;blog=8471244&amp;post=93&amp;subd=arulghost&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>         <strong>Rindu Menjerit</strong></p>
<p>by, A.ghost<a href="http://arulghost.wordpress.com/2009/07/15/93/#more-93"><img alt="" src="http://photos-f.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc1/hs198.snc1/6692_1069678309986_1466956422_30159765_1214533_s.jpg" title="A.ghost" class="alignright" width="130" height="103" /></a></p>
<p>Hingar bingar menjelang malam<br />
Gairah lembut wajah anggunmu<br />
Tak bisa kutahan rasa rindu<br />
Disini aku menyendiri merangkuh rautmu</p>
<p>Dunia Kelam menjelang malam<br />
Terpanah, saat Adzan mengisi relung<br />
Disana, separuh hatiku tertinggal<br />
jarak dan waktu masih menjadi musuhku</p>
<p>Terhalang hamparan laut yang dingin<br />
menyelimuti bongkahan hatiku<br />
yang mulai beku<br />
oleh rindu yang mendera jiwa</p>
<p>Terlalu kencang ombak laut merobek asa<br />
Menghantam karang hati yang sedang pilu<br />
Wahai pemilik separuh hatiku,<br />
aku selalu ada untukmu sayangku.</p>
<p><span id="more-93"></span></p>
<p> <strong>  Goresan cinta sang pujangga</strong><br />
By, A.ghost<br />
 <div class="wp-caption alignright" style="width: 140px"><a href="www.arulghost.wordpress.com"><img alt="A.ghost" src="http://photos-h.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc1/hs198.snc1/6692_1072347216707_1466956422_30166159_1361266_s.jpg" width="130" height="103" /></a><p class="wp-caption-text">A.ghost</p></div><br />
Hari ini  kutumpahkan semua gemuruh jiwaku<br />
Yang tertuang dalam goresan pena tua<br />
Kerinduanku membisikkan angan<br />
Dalam hembusan sepiku</p>
<p>Ku torehkan  sekeping arti cinta<br />
dengan tinta berpeluh rindu<br />
Adakah kau sepih<br />
seperti aku sayangku..?</p>
<p>Kusadari..<br />
aku hanya secuil nirah yang menyejukkan hatimu<br />
Yang kemudian sirnah ditelan kehausan cinta<br />
hilang dan tak akan kembali lagi&#8230;</p>
<p>Ku torehkan setitik cinta&#8230;<br />
Pada relung hati yang dalam dan gelap<br />
kemudian berlalu pergi,<br />
dan Hilang tanpa bekas.</p>
<p><strong>Permintaan Hati</strong><br />
By, A.ghost<br />
<div class="wp-caption alignright" style="width: 106px"><a href="www.arulghost.wordpress.com"><img alt="A.ghost" src="http://photos-a.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc1/hs028.snc1/4287_1046370327301_1466956422_30103952_8183842_s.jpg" width="96" height="130" /></a><p class="wp-caption-text">A.ghost</p></div><br />
Cinta jangan kau pergi<br />
meninggalkan hati yang gulana<br />
Cinta biarkan aku memelukmu dalam hangatku<br />
berikan aku setetes embun penyegar hati</p>
<p>jangan kau tinggalkan goresa yang tak nampak<br />
namun membekas dalam relung hati<br />
jangan kau rajuk asa yang tak berujung<br />
menimbulkan perih yang teramat dalam</p>
<p>Andaikan bisa, kuyakinka engkau sayangku<br />
sahara Kanku jejaki, ku taklukkan fuji untukmu<br />
kuselami antartika, kucuri tajmahal untukmu<br />
demi sekilas senyum darimu</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/arulghost.wordpress.com/93/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/arulghost.wordpress.com/93/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/arulghost.wordpress.com/93/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/arulghost.wordpress.com/93/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/arulghost.wordpress.com/93/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/arulghost.wordpress.com/93/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/arulghost.wordpress.com/93/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/arulghost.wordpress.com/93/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/arulghost.wordpress.com/93/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/arulghost.wordpress.com/93/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/arulghost.wordpress.com/93/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/arulghost.wordpress.com/93/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/arulghost.wordpress.com/93/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/arulghost.wordpress.com/93/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=arulghost.wordpress.com&amp;blog=8471244&amp;post=93&amp;subd=arulghost&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://arulghost.wordpress.com/2009/07/15/93/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/cfdd98dadb37b02924fefe7184b6b757?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">arulghost</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://photos-f.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc1/hs198.snc1/6692_1069678309986_1466956422_30159765_1214533_s.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">A.ghost</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://photos-h.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc1/hs198.snc1/6692_1072347216707_1466956422_30166159_1361266_s.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">A.ghost</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://photos-a.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc1/hs028.snc1/4287_1046370327301_1466956422_30103952_8183842_s.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">A.ghost</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Aku bukan pujangga</title>
		<link>http://arulghost.wordpress.com/2009/07/15/aku-bukan-pujangga/</link>
		<comments>http://arulghost.wordpress.com/2009/07/15/aku-bukan-pujangga/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 15 Jul 2009 06:11:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>arulbugines</dc:creator>
				<category><![CDATA[Puisi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://arulghost.wordpress.com/?p=86</guid>
		<description><![CDATA[Aku bukan pujangga, Yang punya segudang stock kata cinta Yang bersedia dampingmu menyeka air mata Yang memandang mesra kala dirimu terjaga Aku tak selalu punya cerita indah Tuk selalu membuat harimu berwarna Aku punya hitam dibalik selipan putih kisah S&#8217;bab aku tak sempurna Aku bukan pujangga, Yang bisa membuai bunga hingga menundukkan kelopaknya Yang bisa [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=arulghost.wordpress.com&amp;blog=8471244&amp;post=86&amp;subd=arulghost&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://arulghost.wordpress.com/2009/07/15/93/#more-93"><img alt="" src="http://thm-a01.yimg.com/image/35c7abccaa4b7a30" class="aligncenter" width="155" height="116" /></a>Aku bukan pujangga,</p>
<p>Yang punya segudang stock kata cinta</p>
<p>Yang bersedia dampingmu menyeka air mata</p>
<p>Yang memandang mesra kala dirimu terjaga</p>
<p>Aku tak selalu punya cerita indah</p>
<p>Tuk selalu membuat harimu berwarna</p>
<p>Aku punya hitam dibalik selipan putih kisah</p>
<p>S&#8217;bab aku tak sempurna</p>
<p><span id="more-86"></span></p>
<p>Aku bukan pujangga,</p>
<p>Yang bisa  membuai bunga hingga menundukkan kelopaknya</p>
<p>Yang bisa memberi tatapan penuh makna</p>
<p>Yang kau harap dapat bermanis bibir kata</p>
<p>Serta mengetarkan dahan dahan dengan sajak yang kubaca</p>
<p>Aku seorang yang biasa</p>
<p>Biasa melukaimu dengan sepenggal kata</p>
<p>Biasa tuk kau hitung cerca</p>
<p>Aku bukan pujangga,</p>
<p>Hanya perlu kau tau cintaku adalah bilangan nafas</p>
<p>Yang tak terputus</p>
<p>Janjiku adalah anyaman harapan bahagia untukmu</p>
<p>Dan harapku sahaja</p>
<p>Agar kau mengerti peluh  serta riak hariku</p>
<p>Lena H, Juli 2009, &#8221; Aku bukan Pujangga </p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/arulghost.wordpress.com/86/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/arulghost.wordpress.com/86/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/arulghost.wordpress.com/86/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/arulghost.wordpress.com/86/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/arulghost.wordpress.com/86/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/arulghost.wordpress.com/86/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/arulghost.wordpress.com/86/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/arulghost.wordpress.com/86/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/arulghost.wordpress.com/86/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/arulghost.wordpress.com/86/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/arulghost.wordpress.com/86/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/arulghost.wordpress.com/86/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/arulghost.wordpress.com/86/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/arulghost.wordpress.com/86/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=arulghost.wordpress.com&amp;blog=8471244&amp;post=86&amp;subd=arulghost&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://arulghost.wordpress.com/2009/07/15/aku-bukan-pujangga/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/cfdd98dadb37b02924fefe7184b6b757?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">arulghost</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://thm-a01.yimg.com/image/35c7abccaa4b7a30" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Puisi cinta</title>
		<link>http://arulghost.wordpress.com/2009/07/15/puisi-cinta/</link>
		<comments>http://arulghost.wordpress.com/2009/07/15/puisi-cinta/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 15 Jul 2009 05:54:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>arulbugines</dc:creator>
				<category><![CDATA[Puisi]]></category>
		<category><![CDATA[puisi cinta]]></category>
		<category><![CDATA[puisi romantis]]></category>
		<category><![CDATA[puisi untuk kekasih]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://arulghost.wordpress.com/?p=83</guid>
		<description><![CDATA[PUISI Selalu Rasa Cinta Setiap saat kututup mataku Wajahmu selalu terbayang terbayang wajahmu setiap kali mimpiku setiap saat kututup telingaku ingin ku melupakan terdengar suaramu tapi ku tak mampu Saat kubuka mata ini Aku sadar aku orang yang tak mampu bayanganpun hilang kembali aku sadar aku orang yang jelek yang ada hanya ku sendiri tapi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=arulghost.wordpress.com&amp;blog=8471244&amp;post=83&amp;subd=arulghost&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>PUISI<br />
<a href="http://arulghost.wordpress.com/2009/07/15/puisi-cinta/#more-83"><img alt="" src="http://thm-a01.yimg.com/image/4c5c5213fb0cb7ae" class="aligncenter" width="155" height="116" /></a><br />
            Selalu                                                                           Rasa Cinta</p>
<p>Setiap saat kututup mataku                                                Wajahmu selalu terbayang</p>
<p>terbayang wajahmu setiap kali mimpiku</p>
<p>setiap saat kututup telingaku ingin ku melupakan</p>
<p>terdengar suaramu tapi ku tak mampu</p>
<p><span id="more-83"></span><br />
    Saat kubuka mata ini                                                            Aku sadar aku orang yang tak mampu</p>
<p>    bayanganpun hilang kembali                                                  aku sadar aku orang yang jelek</p>
<p>    yang ada hanya ku sendiri                                                     tapi seandainya kau melihat hatiku</p>
<p>    dan kenyataan kau tak kembali<br />
 ada sesuatu dalam batinku</p>
<p>                                                                                                yang sangat ingin ku utarakan</p>
<p>Ingin ku utarakan isi dihatiku                                                      padamu..</p>
<p>tapi tak tahu bagaimana caranya                                           </p>
<p>ku sudah tak perduli dengan aturan<br />
Rasa cinta yang datang tiba-tiba</p>
<p>yang memandang cinta hanya dengan harta<br />
aku tak mampu menolaknya</p>
<p>                                                                                             hanya aku tinggal menunggu jawabmu</p>
<p>    Kau tahu aku mencintaimu                                                 mungkinkah kaupun menyukaiku</p>
<p>    kau tahu aku merindukanmu</p>
<p>    tapi mengapa kau jauhi aku                                                       Rasa cinta yang datang tiba-tiba</p>
<p>    apa kau ingin menguji aku                                                         aku tak mampu menolaknya</p>
<p>                                                                                                     aku pun ingin menjauhinya</p>
<p>Kuselalu rindu                                                                            tapi aku tak kuasa menahannya</p>
<p>setiap waktu</p>
<p>                                                                                              Aku hanya bisa menunggu</p>
<p>    Walau hari  berganti                                                            cintaku berlalu</p>
<p>    walau bumi terbalik</p>
<p>    walau matahari tenggelam                                                                                               by: RHR<br />
<!--more--></p>
<p>    dan bulan tak nampak</p>
<p>    walau seribu maut menjemputku</p>
<p>    ku selalu sayang padamu</p>
<p>                                    by: RHR</p>
<p>        KAU LAYAK TERBANG<br />
 Sinar Terpandang disudut kecil tikungan<br />
Sinar coba hangatkan aku</p>
<p>seorang anak perempuan dari dinginnya angin</p>
<p>menangis tersedu-sedu sendiri<br />
sinar coba terangi aku</p>
<p>meratapi hidupnya ini<br />
dari gelapnya malam</p>
<p>    Melihat bekas rumahnya terbakar habis                                    Sinar coba terangi langkahku</p>
<p>    teringat akan kedua orangtuanya                                               tuk maju kedepan</p>
<p>    seraya menangisi takdir hidupnya                                              sinar rasuki tubuhku</p>
<p>    setelah ia lihat temannya bahagia                                               dari gelapnya hidupku</p>
<p>Sigadis kecil pun berdiri                                                        Cahayamu tak pernah berlalu</p>
<p>dengan gagah berani<br />
ku butuhkan kamu tuk terangi hidupku</p>
<p>sigadis kecilpun melangkah maju                                            jangan pernah jauh dariku</p>
<p>menggapai hidup yang baru                                                    karena sinar</p>
<p>                                                                                             ku butuh kamu</p>
<p>    Sebab kau layak terbang                                                                                       </p>
<p>    kau layak terbang                                                                                                            by: RHR</p>
<p>    kibaskan sayapmu kedepan musuhmu                                                                   </p>
<p>    tunjukanlah dirimu mampu</p>
<p>    railah hidup barumu yang menunggu</p>
<p>Cobaan saat ini pasti bisa kau hadapi</p>
<p>dengan gagah berani</p>
<p>usap kini air mata dipipi</p>
<p>dan langkahkan kaki lalui hari                                               </p>
<p>kebahagiaan telah menanti didepanmu</p>
<p>                                    by: RHR</p>
<p>               Oh Mama</p>
<p>Oh hujan tolonglah aku<br />
Oh mama..oh mama<br />
 Hujan datang mengiringi langkahku</p>
<p>                                                                                           basahi tubuhku dengan air surgawi alam ini</p>
<p>Kasihmu lebih berharga                                                       </p>
<p>dari seluruh harta didunia<br />
Petir menyambar membelah angkasa, langitku</p>
<p>kebaikanmu tak terhingga                                                    dengan gemuruh badai dan petir</p>
<p>sepanjang segala masa                                                         bermunculan menghiasi langitku yang gelap ini</p>
<p>Walau terkadang ku menganggapnya salah<br />
Oh hujan dinginkan aku</p>
<p>kau tak perduli dan masih mencintai<br />
dari panasnya api yang membara</p>
<p>walau terkadang kau sangat tegas<br />
Oh hujan basahi aku</p>
<p>tapi kau penyayang<br />
dari semua amarah dalam dada</p>
<p>Oh hujan tolonglah aku</p>
<p>Maafkan aku yang selalu melawanmu</p>
<p>dan terkadang tak menghiraukanmu                                                                                    by: RHR</p>
<p>jangan biarkan air matamu mengalir</p>
<p>itu adalah surga bagiku</p>
<p>                Maafkan aku Mah&#8230;&#8230;.</p>
<p>                                    by:RHR</p>
<p>                    Cinta                                                                                            Aku Mengerti</p>
<p>Bila kau mencintai seseorang<br />
Tak perlu katakan lagi</p>
<p>cintailah dengan cara sederhana<br />
aku pun mengerti</p>
<p>karena..<br />
tak perlu banyak bicara</p>
<p>mungkin esok lusa<br />
aku tahu</p>
<p>orang yang kau cintai</p>
<p>adalah orang yang paling kau benci<br />
Semua telah berlalu                               </p>
<p>                                                                                              kenangan masa lalu</p>
<p>Dan bila kau membenci seseorang                                      </p>
<p>bencilah dengan cara sederhana<br />
Ku akan pergi</p>
<p>karena..<br />
tak akan kembali</p>
<p>mungkin esok lusa<br />
ku mengerti</p>
<p>orang yang kau benci<br />
ku pergi</p>
<p>adalah orang yang paling kau cintai                                   </p>
<p>                                                                                                Walau kenangan ini tak terasa indah</p>
<p>                                    by: SaRAH                                           kan selalu kuingat</p>
<p>                                                                                                 walau saat-saat bersamamu</p>
<p>                                                                                                 tinggalah mimpi bagiku</p>
<p>                                                                                                                                             by: RHR</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/arulghost.wordpress.com/83/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/arulghost.wordpress.com/83/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/arulghost.wordpress.com/83/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/arulghost.wordpress.com/83/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/arulghost.wordpress.com/83/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/arulghost.wordpress.com/83/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/arulghost.wordpress.com/83/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/arulghost.wordpress.com/83/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/arulghost.wordpress.com/83/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/arulghost.wordpress.com/83/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/arulghost.wordpress.com/83/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/arulghost.wordpress.com/83/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/arulghost.wordpress.com/83/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/arulghost.wordpress.com/83/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=arulghost.wordpress.com&amp;blog=8471244&amp;post=83&amp;subd=arulghost&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://arulghost.wordpress.com/2009/07/15/puisi-cinta/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/cfdd98dadb37b02924fefe7184b6b757?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">arulghost</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://thm-a01.yimg.com/image/4c5c5213fb0cb7ae" medium="image" />
	</item>
	</channel>
</rss>
