Arulghost's Blog

Just another WordPress.com weblog

sejarah bugis


Judul Asli: *The Bugis

cover book

cover book


Penulis: *Christian Pelras
Penerjemah: *Abdul Rahman Abu Dkk.
Penerbit: *Nalar, 2006
Tebal: *xxxix + 449

Siapakah manusia Bugis itu?
Apa karakteristik yang melekat padanya sehingga berbeza dengan kelompok manusia lainnya, seperti manusia Jawa, Bali, Melayu, dan lain-lain? Dan bagaimana karekter kebugisan itu terbentuk, bertahan, dan berubah mengikuti perubahan zaman? Jawapan atas pertanyaan-pertanyaan itulah yang dituangkan oleh Christian Pelras, antropologis berbangsa Prancis, dalam bukunya, Manusia Bugis.

Spektrum pemaparannya amat luas dan komprehensif; bak sebuah repertoar dalam adegan sandiwara Hamlet. Memuatkan tentang asal-usul, kondisi geografi dan ekologi, sistem teknologi, organisasi sosial dan sistem perkawinan, seni sastra, agama, ekonomi, politik, dan watak manusia Bugis menurut urutan waktu. Mulai dari milenium pertama tarikh Masehi hingga sekarang. Penyajian seperti itu dimungkinkan karena Pelras melakukan penelusuran dokumen yang amat teliti dan penelitian lapangan yang intensif. Kajiannya berlangsung selama 40 tahun (1950?1990). Hasil penemuannya mencengangkan. Sebab-, jejak-jejak masa silam orang Bugis yang masih samar-samar dan yang belum terisi dalam peta pengetahuan bagi umumnya orang Bugis, termasuk pemerhati dan ilmuwan sosial, dipaparkan secara amat meyakinkan-.

rumah adat bugis

rumah adat bugis

Meskipun asas penelitiannya, kitab La Galigo, diragukan kesahihannya dan bahkan ditentang oleh sejumlah peneliti- mengenai Sulawesi Selatan lainnya, seperti Andaya, Caldwell, dan Koolhof, argumentasinya logik dan disertai dengan bukti arkeologis. Lebih dari itu, ia menepis keyakinan masyarakat umum dan ilmiah, bahwa moyang orang Bugis adalah pelaut ulung. Bagi Pelras, mereka petani dan pedagang. Aktiviti kemaritiman baru ditekuni orang Bugis pada abad ke-18. Anggapan mengenai nenek- moyang- orang Bugis sebagai pelaut ulung bersumber dari banyaknya perahu Bugis pada abad ke-19 yang berlabuh di berbagai wilayah Nusantara, Papua, Singapura, bahagian selatan Filipina, dan pantai barat laut Australia. Lagi pun, perahu phinisi yang terkenal dan dianggap telah berusia ratusan tahun, bentuk, dan model akhirnya baru ditemukan antara penghujung abad ke-19 hingga 1930-an (hlm. 3?4). Hal lain yang diungkap oleh Pelras adalah bahwa orang Bugis sejak 1800-an telah menembus ruang yang masih- dibatasi oleh jarak. James Brook, pengelana berkulit putih yang berkunjung ke Wajo pada 1840, ditanya tentang situasi politik di Turki dan nasib Napoleon (Pelras, Tapak-tapak Waktu-, 2002: 45).

Selain itu, orang Bugis mampu mendirikan kerajaan yang tidak mengandung pengaruh India dan tidak mendirikan kota sebagai pusat aktiviti mereka. Perpaduan antara karya sastra tertulis dan tradisi lisan melahirkan La Galigo yang justru lebih panjang dari Mahabarata.

Sungguhpun demikian, karya Pelras tidak luput dari kelemahan, terutama menyangkut karakter orang Bugis di lapis waktu kini. Mengikut Pelras bahwa pola interaksi sehari-hari warga masyarakat Bugis dilandasi oleh sistem patron-klien nampaknya sudah sangat- langka. (berbeza) Itu tampak nyata dalam kehidupan petani dan nelayan, dengan hubungan antara ponggawa (pemilik sarana produksi) dan sawi (buruh yang mengoperasikan peralatan produksi) yang cenderung eksploitatif. Dalam sistem bagi hasil, sawi mendapatkan bahagian yang sangat kecil, sehingga kondisi ekonominya selalu berada di ambang kelaparan. Kalaupun ponggawa sangat mudah- memberikan pinjaman berupa pangan dan uang kepada sawi-nya, itu lebih sebagai strategi ponggawa agar sawi-nya senantiasa dalam genggamannya.

Demikian halnya karakter orang Bugis yang menghargai orang lain dan sangat setia kawan, tampaknya mungkin sudah mulai terhakis oleh arus zaman. Lihatlah kondisi pada 2000: Sulawesi Selatan, termasuk di daerah Bugis, terdapat banyak balita dan anak-anak yang menderita kelaparan gizi, juga cukup banyak orang Bugis yang menunaikan ibadah haji. Hal itu meng-isyaratkan bahwa orang Bugis yang arus rezekinya agak deras kurang memiliki kepedulian terhadap tetangganya.

14 Juli 2009 - Posted by | sejarah daerah

5 Komentar »

  1. salam dari saya aku juga orang bugis dan saya tinggal di daerah kalimantan dan saya kulyah di sanah dan bekerja sampingan dan akupun masiah bisah bahasa bugis walau bergabung ama teman -teman aku tapi udah biasa dan saya berdanpingan dengan orang lain dan dan tidak disanah ada bahasa bugi disana ada,dayak,banjar,kutai dan lainya mungkin itu aja komentar dari saya wassalam.

    Komentar oleh kasran | 5 Januari 2010 | Balas

  2. Ya mari kita sama-sama melestarikan adat dan nilai-nilai kebugisan kita…

    Komentar oleh amr | 28 Januari 2010 | Balas

  3. ass.
    anda orang bugis kah??
    saya bukan orang bugis,,,tapi saya ingin mengkritik sedikit tentang tulisan :
    “Demikian halnya karakter orang Bugis yang menghargai orang lain dan sangat setia kawan, tampaknya mungkin sudah mulai terhakis oleh arus zaman. Lihatlah kondisi pada 2000: Sulawesi Selatan, termasuk di daerah Bugis, terdapat banyak balita dan anak-anak yang menderita kelaparan gizi, juga cukup banyak orang Bugis yang menunaikan ibadah haji. Hal itu meng-isyaratkan bahwa orang Bugis yang arus rezekinya agak deras kurang memiliki kepedulian terhadap tetangganya.”

    maaf..saya menganggap itu salah besar…
    saya sudah 20 tahun tinggl didaerah bugis tepatnya di kabupaten pinrang, SulSel. orang bugis itu memang setia kawan dan menghargai orang lain sampai sekarang pun begitu.
    saya telah membuktikannya.
    dari mana anda mendapatkan data bahwa banyak balita dan anak2 yang menderita kelaparan gizi??? padahal didaerah inilah yang paling rendah angka gizi buruknya.
    memang kalau urusan naik haji,,menurut saya orang bugis memang banyak sekali yang menunaikan haji setiap tahun.

    wass.

    Komentar oleh sulqadri | 9 April 2010 | Balas

  4. salam, saya senang dengan adanya blog- seperti ini. mengangkat tema-tema kebudayaan leluhur yang saat ini diambang kritis oleh pengaruh luar dan paham post-modern yang begitu merasuki pemuda-pemudi bugis dimasa kini.
    bahkan ketika terjadi dialog kecil diacara tuda’ sipulung anak muda, saya menghela nafas panjang karena tidak ada satupun diantara mereka yang tahu tentang la galigo yang saat ini berada dibelanda, jauh dari si-Tuannya(bugis). sangat kontras dengan seorang peneliti muda berkewarganegaraan amerika yang saya temui disebuah seminar bahasa berskala internasional beberapa tahun silam. dengan tegas ia bertanya, “what should I do to reach the village Wajo. I want to explore the elements of La Galigo directly from the source.”! dengan senyum penuh bangga saya menjelaskannya panjang lebar. sembari dalam hati berucap “LUAR BIASA! Orang Amerika itu tahu banyak hal tentang Bugis. mungkin tidak melebihi pengetahuanku. tapi, keingintahuannya pasti melebihi saya”. kemudian pemuda itu bergegas seakan semua schedule-nya memanggil dan kamipun berpisah. tidak lama setelah itu, perasaan malu menyelimutiku. kenapa orang luar jauh lebih mencintai budaya kita…

    Komentar oleh andi | 30 Juni 2010 | Balas

  5. mantap bener

    Komentar oleh andi zyam_zull | 15 November 2010 | Balas


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: